Friday, 5 December 2014

BLUE ROSE






Kenangan seperti Lumpur yang mengendap di dasar sungai…
Bergerak, lalu menanti hujan turun agar bisa menyatu dengan air dan kembali menjadi Lumpur..

Black House
Di Rumah itulah aku bertemu dengannya pertama kali.
Saat dia memberiku setangkai mawar berwarna biru untukku.


Hitam.. pekat.. itulah yang kuingat tentang wujud dari rumah itu.
Sosok rumah ‘aneh’ yang telah lama berada di perbukitan yang berada persis di belakang rumah kakekku. Aku hamper sering berkunjung, ah, bukan. Tapi aku memang lebih sering menginap di rumah kakek daripada dirumah. Sejak aku belita setiap harinya kau dititipkan di rumah kakek karena kesibukan orang tuaku. Tch, sebenarnya bukan hanya itu alasannya. Mereka-kedua orang tuaku- selalu menitipkanku kerumah ini karena alasan yang lain. Karena aku, Luhan, sudah sejak kecil diklaim dengan julukan ‘bocah aneh’ oleh orang orang. Dan mirisnya orangtuaku juga.

Semua ini karena sejak balika aku tak bisa berbicara sama sekali. Mereka pikir aku bisu. Karena itu mereka menitipkanku pada kakekku yang seorang psikolog dengan dalih agar kakek dapat menyadarkanku. Dan makna ‘menyadarkan’ itu sebenarnya lebih menjurus kearah penyembuhan. Aku masih tidak mengerti kenapa aku harus disembuhkan. Aku merasa sehat, aku merasa baik baik saja,jelas aku tidak sakit. Hanya karena tidak bisa bicara hingga aku berusia 4 tahun lalu ereka menganggapku bisu, kejam sekali. Tapi aku tak peduli. Aku hanya seorang anak yang harus patuh pada kehendak mereka, bukan begitu?

Yang aku ingat dulu, kakek hanya memeberikanku buku polos dan pensil warna setiap harinya. Aku dengan senang hati menerimanya.bahkan aku sangat senang. Setiap harinya aku mencari objek objek yang menarik, lalu kutuangkan ke dalam kertas gambarku. Terkadang kakek mengajakku berkeliling rumah tetangga. Tapi aku tak suka. Tatapan yang ditujukan padaku itu membeuatku merasa muak. Entahlah.. aku hanya merasa seperti itu.

Aku lebih suka mencari objek unik di perbukitan di belakang rumah kakek. Menggambar apapun yang kusukai. Rumput, bunga, serangga, dan apapun itu.semakin tinggi tubuhku kakek semakin membebaskanku untuk mencari objek objek yang kusukai dan menggambarnya ke dalam buku yang selalu kubawa. Jika dihitung, selama bertahun tahun, sudah tak terhitung berapa objek yang sudah kugambar dalam kertas gambarku.

Semakin aku besar aku sudah tak menggunakan pensil bewarna lagi, melainkan pensil biasa dengan warna abu abu yang membosankan. Tapi aku tak peduli, lagipula aku sudah tak tertarik pada warna warni lagi seperti saat aku masih balita dulu. Aku lebih menikmati objek gambarku daripada warnanya.

Aku ingat saat aku berusia 12 tahun saat pertama kali bertemu dengannya untuk pertama kalinya.

Aku sedang asik menggambar seekor bunglon yang menempel arogan pada sebatang pohon berlumut di perbukitan, lalu tiba tiba saja hujan turun dengan derasnya seperti air dituangkan dari ember raksasa dari atas sana.

Hujannya deras, berisik, dan melumatkan kerak kerak lumpur hingga lumpur yang terlihat retak retak itu kembali menyatu dengan air dan menjadi lumpur dalam wujud sesungguhnya seperti bagaimana orang orang mengenalnya.

Kulindungi tubuhku dengan buku gambarku, namun sama sekali tak membantu. Dalam bayangan berkabut keran hujan samar samar aku lihat bayangan hitam beberapa meter dihadapanku. Aku memicingkan mataku untuk memperjelas objek apa yang tertangkap samar oleh penglihatanku itu. Semakin lama aku meyakini jika itu adalah rumah.

Aku berlari lari kearah rumah itu, membuka pagarnya terburu buru lalu bertedu di serambinya. Kutoleh kepalaku kesan kemari untuk mengamati rumah yang seluruh catnya bewarna hitam pekat. Aku sedikit heran. Sudah beberapa tahun aku mengelilingi bukit ini dan aku tak pernah melihat rumah ini. Didorong rasa penasaran aku melangkahkan kakiku menuju jendela kaca dan mengintip ke dalam. Tak ada yag menarik, hanya perabot tua yang terkesan antic yang tersebar di sudut sudut dalam rumah.

Aku membuang nafasku, aku mengusap usap lenganku karena aku sedikit kedinginan dan menggigil.

Krieeettttttt…

Aku tersentak dari lamunan dan terkejut setengah mati saat kudengar pintu rumah yang trbuka. Kutolehkan kepalaku kea rah pintu dan sontak kurasakan jantungku berhenti berdetak. Sesuatu yang tertangkap oleh mataku adalah sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Objek yang sangat sempurna.

Seorang pria yang sangat pucat. Mungkin beberapa tahun lebih tua dariku, berdiri dambang pintu, menatap lembut kearahku. Dalam dekapannya terkumpul beberapa tangkai bunga mawar berwarna.. biru?

Aku menatap kikuk ke arahnya, tapi dia malah melemparkan senyuman padaku.

“ Hai” sapanya.

Aku meneguk ludahku, lalu memaksakan tersenyum dan mengangguukan kepala untuk menjawab. Aku bisu, ingat?

Dia mendekat lalu menatapku lekat.

“ Kau kedinginan? Tanyanya lagi.

Aku mengagguk ragu.

“ Masuklah, aku akan memberikanmu minuman hangat.” Tawanya.

Aku hanya mematung di tempatku. Dia seperti menangkap keragu raguan dalam sikapku, karena itu dia tersenyum, meletakkan mawar biru itu di kursi teras, lalu menarik pergelanagan tanganku. Tangannya terasa amat lembut tapi sangat dingin.

Dia mendudukkanku di kursi kayu berukiran unik di ruang tengah, lalu mengambil selimut dan menutupi tubuhku dengan selimut itu. Selanjutnya dia menyodorkan secangkir cokelat hangat padaku.

“ Siapa namanu?” tanyanya setelah duduk dihadapanku.

Aku diam, bingung harus menjawab apa. Aku tak bisa bicara kan?

“ Bicaralah.. kau bisa.” Katanya

Entah mengapa, tiba tiba aku merasa aku mampu melakukannya. Dengan keyakinan yang amat besar aku menggerakkan mulut dan lidahku.

“ A-aku.. Luhan” jawabku

Huh? Aku bicara? Sungguh? Jangan bangunkan aku jika ini hanya mimpi!

Dia tersenyum.

“ Luhan.. namanu cantk.” Pujinya.

Aku tak tahu apa tapi darahku mendesir.

“ Namaku Kris ”

aku hanya diam. Saat ini dia terlihat sibuk memotong tangkai mawar biru yang dia petik tadi.

“ Itu.. mawar?” tanyaku ragu, tak yakin sebenarnya itu jenis bunga mawar. Mana ada mawar warna biru.

Dia tersenyum . “ Ya.”

Aku tertegun. Benarkah?

“ Tapi warnanya..”

“ Biru” katanya menyambung ucapanku.

“ Ya.. biru. Anehh..” sahutku.

“ Aneh?”

aku mengangguk.

“ Baru kali ini aku melihatnya.” Kataku terus terang.

Dia tersenyum lagi.

“ Aku memiliki banyak di halaman rumah.” Katanya.

Aku menatap mawar mawar itu. Sangat cantk.

“ Boleh aku minta satu?”

Kris mentapku lama, lalu tersenyum.

“ Kau menyukai mawar ini?” tanyanya.

“ Ya, warnanaya cantik.” Kataku terus terang.

Dia mengangguk.

“ Kau boleh membawa berapapun yang kau mau. Kembalilah kesini jika kau meginginkannya lagi.”

Dia menyodorkan satu tangkai padaku lalu tersenyum ramah. Dengan semangat aku menyambut mawar itu. Ku belai kelopak birunya yang lembut. Kuhirup aroma segarnya. Tangisan hujan diluar mendayu dayu di telingaku. Berisik, tapi entah kenapa aku merasa lelah dan mengantuk. Akhirnya tanpa kutahu yang selanjutnya terjadi, aku sudah kehilangan kesadaran. Sepertinya aku tertidur.



Aku terkesiap. Tubuhku terasa lemas. Kubukan mataku dan kutatap sekeliling. Aku masih di rumah bercat suram itu.

“ Sudah bangun?”

aku cepat menoleh kearah suara itu.

“ Kris? Sudah berapa lama aku tertidur?” tanyaku

“ Tak lama.. hanya setengah jam” jawabnya sambil tersenyum.

“ Hujannya sudah berhenti.” Gumamku saat tak kudengar lari suara gemuruh hujan di luar sana.

“ Kau sudah mau pergi?”

Aku mengangguk.

“ Aku takut kakek marah padaku.” Kataku jujur.

Kris terkekeh, lalu tersenyum.

“ Dia tak akan tahu.” Katanya.

Entah apa maksudnya, aku tak mengerti.

“ Aku pergi, terima kasih.” Kataku menyambar mawar pemberiannya tapi… “ AKH..” aku meringis, tanganku tertusuk duri.

Kris menghampiriku dengan cepat, lalu meraih jariku dan menghisap darah yang keluar dari sana dengan cepat. Aku termangu melihat pipi pucatnya perlahan bersemu merah.

“ Darahnya sudah berhenti.” Katanya memecah kesunyian.

Aku menarik tanganku dengan cepat. Aneh. Rasanya hatiku berdesir aneh.. apa ini?

“ Ayo kuantar sampai melewati pagar.” Katanya.

Aku menangguk tapi lagi lagi aku tersentak saat dia menggenggam erat tanganku, menuntunku melangkah bersamanya. Meski hanya diam, aku yakin memahami jika aku sedang berdebar saat ini. Seperti yang kukatakan tadi. Ini aneh.

“ Hati hati ya Luhan” katanya.

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Aku berbalik dan berlari lari lari kecil . sekejap aku sempat menoleh padanya, namun entah apa yang terjadi dia lenyap. Rumah aneh itu juga lenyap padahal aku baru beberapa langkah saja aku berlari.

Aku terpaku dan memaku bingung pada tempatku berdiri. Namun lagi lagi aku tertusuk duri.

Tertusuk?

Aku tersenyum melihat mawar biru itu masih ada. Itu artinya aku tidak bermimpi. Kris ada. Dia nyata. Mungkin- .

Aku kembali berlari ke rumah kakeh dengan rambut yang lembab karena air hujan.




Luhan.. kau darimana saja? Sambut kakeh khawatir.

Aku tersenyum lebar, hendak memamerkan padanya jika aku sudah bisa bicara tapi…

Suaraku tak keluar.

Aku mencoba sekuat tenaga, tetap ga bisa.

Kenapa?

Tadi aku bisa mengobrol dengan Sehun tapi sekarang?

“ Luhan?” tegur kakek.

Aku mendongak lemah dan menatap kakek dengan keputus asaanku. Kakek menarikku dan memelukku.

“ ayah dan ibumu datang menjemputmu nak. Pergilah… sudah saatnya kau hidup bersama mereka.”

Aku terkesiap.

Tidak! Aku tak mau!

Aku menggeleng keras keras berusaha emnunjukkan pada kakek jika aku tak mau pergi. banyak yang ingin aku ceritakan pada kakek soal kejadian tadi. Aku ingin mengatakan jika aku sudah memiliki teman, namanya Kris, dia memberiku mawar biru ini. Tapi..

Mawar biru?

Aku menatap tanganku kosong. tak ada mawar biru dalam genggamanku.

Kemana mawar biru itu? Bukankah tadi aku sedang memegangnya? Aku meletakkannya dimana?

Aku masih bingung, tapi sekejap kemudian yang aku tahu ayah dan ibuku muncul, lalu menyeret tubuhku masuk ke dalam mobil mewahnya. Membuat pandangan ataku hanya tertuju pada sosok kakek yang melambai ke arahku dengan senyum keriputnya.




Bagiku ingatanitu seperti kotak kotak kardus yang berserakan…
Seperti laci laci penyimpanan kenangan…
Meskipun telah beribu malam yang pekat terlampaui oleh guratan waktu..
Kenangan tentangmu tetap membekas dalam ingatanku
Black House… Blue Rose.. and Memory

Jariku terus bergerak, menggesek kuas cat hitam ked lam kanvas putih dihadapanku. Menorehkan sebuah garis panjang lurus pada permukaan lembar kanvas putih. Sudah 8 tahun berlalu, dan inilah jadinya aku.

Luhan, pemuda bisu. Pelukis muda yang terkenal karena lukisan anehnya yang berjudul Black House, Blue Rose, and Memory. Orang tuaku yang awalnya mengecam kebiasaan anehku menggambar objek aneh yang terlihat seperti rumah bercat kelam sejak 8 tahun lalu, kini tak lagi mempermasalahkannya. Tch tentu saja mereka tak akan protes lagi, bukannya mereka beruntung karena mereka dapat mengumpulkan uang uang dari hasil lukisanku yang dulu mereka anggap menyeramkan itu.

Padahal setiap tahun yang terlewati – dulu- selalu mereka gunakan untuk mendencih ketika jari jariku mulai menggambarkan lagi pola pola aneh berwujud rumah berwarna hitam pekatdi perbukitan berkabut itu, karena mereka menganggap itu ‘horror ‘. Tapi sudahlah, toh kini mereka tidak rebut lagi, jadi aku tak perlu kesal lagi dengan keadaan ini. Tak ada gunanya mendendam. Toh hidup itu seperti komposisi seperti lukisan lukisan yang kubuat ini. Kadang aku tak tahu kenapa bagian kanvas kuisi dengan tinta hitam, sedang bagian lain kubiarkan kosong. Aku hanya akan menjalani hidupku seperti kuas yang kupegang, yang tak peduli kemana dirinya akan dicelupkan, ke tinta cerah, atau tinta yang gelap. Yang dia tahu hanya dia harus dicelupkan dan dioleskan. Dia hanya tahu kalau tugasnya hayalah membawa warna yang menurut kehendak penulisnya. Begitupun aku. Aku hanya akan menjalani hidupnya sesuai dengan guratan taktir yang dituliskan oleh Tuhan untukku. Sudah, begitu saja. Tamat. End.


Huffttt…

Aku mengambil kuas baru dan kucelupkan ke tinta berwarna biru gelap. Aku mulai lagi.. Hhhh.. akupun tak tahu kenapa tanganku tak bias berhenti melukiskan objek yang satu ini. Rumah bercat hitam, dengan rimbunan mawar berwarna biru di pekarangannya. Aku suka.. aku kecanduan, karena ketika melukiskan objek ini, aku akan selalu teringat tentang dia.. tapi bukan berarti aku tak mengalami ‘ fase penting’ itu.

Aku tak tahu sejak kapan perasaan aneh ini muncul. Hanya saja aku mulai memikirkan hal hal aneh tentang ‘dia’ dalam kurun waktu beberapa tahun ini, tepatnya ketika aku mengalami masa puberku untuk yang pertama kali. Aku memang bisu, memang anti social, memang aneh, bahkan sikap semua rang padaku juga selalu mengingatkan padaku jika aku itu ‘menyeramkan’.

Kembali pada topic. Aku mulai memikirkan ‘pria pucat’ itu sejak aku menginjak usia 16. Ketika aku bermimpi tentangnya. Bibirku mengulas senyum ketika aku mengingat mimpi itu. Saat itu aku tak tahu itu apa. Tapi aku sering mendengar istilah mimpi basah yang sering terjadi pada remaja seperti yang terjadi padaku saat itu. Anehnya kenapa harus Kris yang hadir dalam mimpiku. aku bahakn baru sekali bertemu dengannya. Aneh tapi aku suka. Akankah aku bisa kembali bertemu dengannya?




Aku baru saja menghempaskan bokongku ke kursi dan duduk menghadap kanvasku seperti biasanya. Tiba tiba saja ibuku masuk dengan langkah gemetaran dan menangis. Aku mengerutkan dahi, menunjukkan ekspresi heran sebagai ganti untuk pertanyaan ‘ Mama, apa yang terjadi?’ dan dalam sekejap saja ibuku sudah memelukku erat. Ada apa?

“ Luhan.. kakekmu meninggal.. digigit hewan buas”

Jantungku seperti berhenti berdetak. Kakekku? Orang yang kusayangi? Yang selalu kurindukan selama ini? Sudah meninggal?

Air mataku jatuh. Aku enar benar menangis kali ini.

“ Kita akan berangkat ke desa. Kakekmu meninggalkan surat wasiat pembagian warisan, dan kita harus kesana Luhan. Aku yakin kakekmu pasti meninggalkan sesuatu untukmu”.

Aku mengutuk dalam hati. Mengapa dalam keadaan seperti inipun ibuku masih sempat memikirkan soal warisan? Dasar mata duitan!!!!

Senja mulai membentangkan cahaya pucat matahari. Aku memutuskan keluar dari lingkaran orang orang tua yang salingmembicarakan pembagian warisandi dalam rumah almarhum kakek. Aku tak tertarik dengan pembagian warisan. Aku lebih penasaran untuk menaiki bukit dan mencari keberadaan Black House yang selalu terpahat apik dalam ingatanku.

Kakiku menapak menyusuri jalanan yang menanjak naik. Aku baru sadar jika langahku ini terasa sagat ringan. Sama sekali tak terasa berat seperti saat aku masih umur 12 tahun dulu. Nafasku tak sampai terenggah ketika aku sampai di sebuah pohon berlumut yang posisinya sudah tak lurus lari, sudah agak membngkuk kini. Aku masih ingat jika saat itu aku tengah menggambar bunglon yang menempel pada batang pohon ini . sebelum hujan turun.

Aku mendekat kearah pohon itu, lalu kupejamkan mataku, kucoba mengingat ingat bagaimana posisiku ketika dulu aku melihat rumah itu.

Setetes air mendarat dipipiku. Kubuka mataku dan menatap langit. Mendung dan… hujan. Aku melindungi kepalaku dengan kedua tangan, namun tak membantu. Dan ketika itulah aku melihatnya. Rumah hitam itu ada disebelah sana rumahnya. Padahal sepertinya aku tadi tak melihat apapun, tapi kini rumah itu hanya berada beberapa meter dari tempatku berdiri.

Dejavu


Aku berlari lari kea rah rumah itu. Kubuka pagarnya terburu buru sampai menyebabkan bunyi berdendang yang sangat keras. Keadaan rumah itu tak berubah sama sekali . persis sama seperti pada saat aku masih berumur 12 tahun. Rimbunan bunga mawar berwarna biru. Aku merasa nyaman berada di sini.

“ Luhan?”

Aku hampir terlonjak ketika aku mendengar suara itu. Kuputar batang leherku dengan perlahan. Aku gugup. Dan dia ada disana... sedang menataplu dengan pancaran mata yang menyiratkan.. err.. kerinduan?

“ Kris ”

Ah, aku bisa bicara lagi! Keanehan yang terjadi hanya saat aku berada dekat dengannya.

Dia tersenyum dan memelukku sangat erat, menyerukkan bibirnya pada lekuk leherku dan menghirup aroma tubuhku dalam dalam. Kucengkeram erat punggungnya dan aku juga menghirup aroma tubuhnya.

“ Kris, bagaimana bisa kau tahu kalau ini aku?” tanyaku dengan mata terpejam, masih menghirup aroma tubuhnya yang seperti mawar.

Kris mengelus punggungku dan mengecup pipiku sekilas.

“ Kau cantik.. bentuk matamu indah.. hanya kau yang meniliki wajah seperti itu. Dan darahmu... memanggilku.”

Aku terdiam, kutarik diriku dan kutatap matanya. Wajahnya masih sama. Tak ada yang berubah sedikitpun, padahal aku bertemu dengannya terakhir kali saat aku masih anak anak. Dan kemesraan ini terjadi.
Dia tersenyum padaku dan menempelkan dahinya pada dahiku.

“ Aku merindukanmu” katanya

“ Aku juga merindukanmu.. aku memimpikanmu setiap malam.” jawabku.

“ Aku tahu.”

dia tahu?

Kami hanya terdiam, saling menatap dengan pandangan redup. Dia mendekat dan semua terjadi begitu saja. Bibirnya menyentuh bibirku dan aku memeluk tengkuknya yang kini menjadi sangat mudah kugapai. Dulu tinggiku hanya sebatas perutnya, tapi kini kami sudah hampir sama. Ciuman ini berakhir dan Sehun kembalitersenyum padaku.

“ Kau kedinginan?”

aku mengangguk.

“ Masuklah..”

aku mengangguk kecil mengikuti langkahnya memasuki rumah.

“ Luhan..”

Sebuah suar serak memanggil namaku, menghentikan langkahku. Aku menoleh dengan cepat dan..

“ Kakek!!” pekikku

Kakekku? Benarkah?

Aku sudah hampir berlari untuk memeluk kakek tapi..

SRETT

Tanganku ditahan oleh Kris .

“ Jangan.. kau tak bisa kesana Luhan. Kakekku sekarang berbeda denganmu.

Aku mengerutkan dahi.

“ aku tak melihat perbedaannya Kris. Aku merindukan kakekku. Aku rindu padanya.”

“ Jangan.. kau tak boleh.. dia bisa membunuhmu.”

Huh, membunuhku?

Kulihat kakekku mentap tajam padaku di seberang pagar sana, tapi tak berani masuk ke dalam. Entah mengapa. Matanya nyalang menatapku.

“ Kalian berbeda Luhan. Kau siang dan dia malam.”

Keningku mengkerut, aku tak mengerti.

“ Tapi aku merindukan kakekku Kris.”

“ Kalau begitu kau harus memilih, sekali kau memilih malam kau tak akan bisa kembali ke siang.”

“ Memilih?”

“ Huum, siang atau malam.?”

Aku terdiam. Kuarahkan pandanganku ke arah kakekku. Hujan telah berhenti. Semburat senja di cakrawala menerpa tubuh kakek. Kurasakan jemari sehun mengelus leherku. Kurasakan bibir tipisnya mengecup leherku. Aku merinding, jangtungku berdetak keras, panas, gerah, darahku bergejolak.

“ Siang atau malam Luhan?”

aku memejamkan mataku dan menjawab.

“ Malam.”

Kris mendesisi pelan, lalu kembali mencapai leherku, menjilat beberapa kali dan...

Darahku mengalir derat menuju ke satu titik yang sedang dikecupnya, tapi aku merasa ringan. Aku memejamkan mata. Di balik mata yang terpejam aku melihat kenangan kenangan ketika aku kecil berhamburan meninggalkan diriku, mendesis, menguap, dan menghilang. Dan aku kosong.

Dalam hitungan beebrapa detik malam menjadi terang dalam pandanganku. Bisa aku lihat dengan jelas tetesan air dari pucuk dedaunan yang berada jauh disana. Aku juga bisa melihat semut yang merayap cepat di sebatang pohon yang berjarak 3 meter dariku.

Aku menoleh ke arah pagar, yang sepertinya beberapa saat yang lalu ingin kudatangi. Namun keinginan itu tak ada lagi. Semuanya lenyap.

Otakku kosong, tak ada kenangan apapun lagi di dalamnya. Aku seperti kardus kosong yang berserakan. Seperti laci kosong yang tak memiliki isi. Segala ingatan dan kenangan telah lenyap tak tersisa.

Kris memelukku erat dan sebuah kecupan mendarat dipipiku. Aku menoleh dan melihat wajah tampannya wajah tampannya. Tidak aku masih memiliki kenangan, buktinya aku masih ingat siapa pria tampan yang berdisi disampingku. Krisku..

“ selamat datang di kegelapan sayang.” sambutnya padaku.

Aku tersenyum dan kukecup bibirnya.

Tubuh kami lenyap dibalik pintu, dan sejak senja itu dan seterusnya aku berdiam di dalam Black House dengan waktu yang tak menepi.

Hidup itu seperti komposisi.

Hanya diam dan biarkan tubuhmu terseret arus takdir yang membawamu, meskipun takdir
menuntunmu untuk mengakhiri hidupmu sebagai manusia.

Friday, 28 November 2014

THE HUNGER GAMES : MOCKINGJAY PART1



Hello Readers…

Setelah setahun nunggu, akhirnya Mockingjay Part 1 rilis juga…. Horray!!!

Emang selalu bikin excited kok kalo seriannya The Hunger Games ini keluar, uda ngefans dari awal. Padahal tahun lalu sempet ketar ketir takut kalo nanti saat Mockingjay rilis aku uda hamil trus ga bisa nonton. Aku juga ga tahu kenapa au bisa mikir kayak gitu. Ya, emang aneh si aku, hehe.


Oke balik lagi ke Mockingjay.

Setelah endingnya di Cathing Fire ( Reviewnya silakan klik DISINI ) Dimana Katniss di selamatkan di Quartel Quell dan dibawa di distrik 13 yang orang orang pikir sudah dimusnahkan tapi ternyata masih ada, disana katniss akhirnya mau menjadi seorang Mockingjay – simbol revolusi- oleh presiden Coin. Untuk itu Katniss harus membuat vidio propaganda yang disebut propo untuk menghimbau district lainnya untuk ikutan melawan Capitol.



Di dukung oleh Plutarch, Effie, Haymitch dan Gale, Katniss mengunjungi district yang uda di bom oleh Capitol ( termasuk district 12) dan bikin vidio disana untuk ditayangkan di district district yang lain. Dan ternyata propagandanya memang berhasil. District lain jadi berani untuk melawan Capitol.




Sementara Peeta sendiri ditangkap ama Capitol dan beberapa kali di wawancarai untuk disiarin ke seluruh district dimana Peeta menghimbau supaya semua District mau nurut sama Capitol, ini yang membuat banyak yang berfikir bahwa Peeta adalah penghianat. Hanya Katniss yang percaya kalo Peeta ga berhianat, dia yakin Peeta di siksa oleh Capitol buat ngelawan dia. Sampai akhirny di akhir salah satu wawancara Peeta memberi warning kalo Capitol bakan nge bom district 13. Dan beneran dong Districk 13 di bom abis abisan sama Capitol.

Setelah insiden pengeboman, Katniss bersikeras menyuruh presiden Coin untuk menyelamatkan Peeta dan para pemenang lain ( Johana dan Anne). Selama upaya penyelamatan, Plutarct menyiarkan vidio Finnict yang tengah menceritakan semua kebusukan Capitol untuk mengalihkan perhatian Capitol. Tapi bencana baru terjadi setelah upaya penyelamatan. Peeta memang berhasil diselamatkan tapi justru malah menjadi bumerang bagi District 13. Peeta telah mengalami brain Washed. Jadi gimana donk nasip Katniss di district 13? dan bagaimana juga nasip Peeta?

Jujur ya sebenarnya aku ga berharap banyak ama film ini mengingat buku ke 3 The Hunger Games : Mockingjay ini adalah buku yang paling membosankan dibanding 2 buku sebelumnya. Berasa bosan aja baca bukunya yang isinya Cuma perang propo sama perang batin Katniss. Apalagi disini Katniss malah berubah jadi menye menye. Ga suka banget ama karakter Katniss yang sekarang. ( kalo pengen baca review bukunya, klik DISINI).

Awalnya uda yakin banget kalo filmny ga bakal se epic Cathing Fire, apalagi ini malah dibikin 2 part apa ga tambah bosen tu nontonnya.

Tapi ternyata…. GUA SALAH!!! Film Mockingjay yang berdurasi 2 jam berasa seru banget, malah menurut aku kurang lama deh durasinya. Ga berasa banget uda 2 jam aja.

Actionnya seru.. emosinya dapat banget. Bagian mengharukannya juga dapet. Ada adegan yang bikin ketawa juga. Pokoknya komplit. Jadi pengen cepet cepet nonton part 2 nya. Salut aku sama Francis Lawrence yang bisa bikin film ini jadi seru banget padahal bukunya malah ngebosenin.

Settingnya, special effectnya, music score nya juga semuanya bagus. Ga berlebihan tapi serba bagus.

Dan yang paling menonjol adalah acting pemainnya. J-Law ga usah diragukan lagi ya, ini orang emang jempolan banget kok, pandai banget memainkan ekspresi. Aku malah pernah baca artikel kalo penulisnya bilang ‘ Nothing go wrong with Jenifer Lawrence’ .


 Julian More yang jadi Presiden Coin juga bagus bangt. Si Donald Shuterland yang jadi presiden Snow juga makin keliatan bengisnya. Dan Liam Hemsworth juga di film ini perannya lebih banyak disorot dan aktingnya juga ga kaku lagi kayak 2 film sebelumnya.Dan apa cuma aku  yang ngerasa Gale disini jadi makin ganteng ( salah fokus)


Tapi yang mau  acungin jempol adalah actingnya mas Josh Hutcherson sebagai Peeta. Dapeet banget. Antara jadi orang yang di brain washed tapi kayaknya masih inget dikit ama Katniss, trus jadi orang abis disiksa sampe kurus banget, dan air mata itu .. bener bener bikin terenyuh. Aku acungi 4 jempol buat mas ganteng satu ini. 




Aku juga suka karakter Katniss di film, dia ga semenye menye di buku. Katniss ga berubah dari Katniss yang sebelumnya, wanita yang kuat dan mandiri. Pergolakan batinnya juga ga lebay kayak di buku. beneran deh benci banget ama Karakter Katniss di buku Mockingjay yang jadi mirip kaya Bella Swan. untung filmnya ga.
 

Setting tempatnya sumpah kece banget, District 13 keliatan keren banget jauh diluar ekpektasi saat membaca bukunya. Hutan tempat Katniss dan Gale berburu juga keren, adem banget kesannya.
Semua adegannya pas, ga ada kesan diulur ulur sama sekali. 



Adegan favorit ku saat Katniss menyenyikan lagu pohon gantung, trus disusul adegan pemberontakan pemberontakan di distric lain yang sampe menghancurkan pembangkit listrik itu keren banget. Dan beneran deh ga nyangka kalo lagu pohon gantung bisa sebagus itu, padahal waktu baca lirik di bukunya berasa kalo ini bakal jadi aneh bangt, tapi ternyata aku salah. Selain suara siulan khas burung Mockingjay sekarang The Hunger Games punya Pohon Gantung sebagai ost baru ni.

Selain adegan itu, adegan favorit lainnya adalah saat beberapa menit sebelum pengeboman distric 13. Berasa ikut ngerasain gimana paniknya Katniss dan para penghuni district 13 saat proses evakuasi.

Disamping semua kelebihan yang sudah aku sebutin tadi ada sih beberapa yang sedikit rancu. Pertama adalah perang propo ini sendiri. Memang sih perang ropaganda lewat media seperti ini memang ada, tapi tidak cukup efektif di dalam situasi film ini. Ini lagi perang lo, dan kok ya masih sempet sempetnya orang orang masih pada nonton TV, ingat lagi perang lo. Emang ada ya orang yang lagi perag terus kepikiran buat nonton TV.

Tapi Cuma dikit doang kok kekurangannya, yang lainnya bagus semua kok.
Jadi intinya … Hunger Games Mockingjay ini keren banget… jadi ga sabar nunggu part 2 nya rilis.

Nb. Semoga besok pas part 2 rilis pas aku belum hamil ya biar bisa nonton. Dan ga tahu kenapa ya aku selalu mikir kalo aku hamil pas Hunger Games rilis, padahal ga da hubungannya juga ya. Cuma takut aja ga bisa nonton gara gara hamil . lol.






TAU GA SIH..

One

Tau Ga sih kalo blog ini uda berusia 2 tahun lo. Dan backroundnya  uda pernah ganti ampe 4 kali, serta pernah ada perbaikan di di konter viewer yang malah bikin viewernya balik lagi jadi nol padahal sebelumnya uda 12.000 an harus ngulang lagi jadi nol. Sedih banget saat itu.

Two

Tau ga sih kalo sekarang aku lagi tergila gila banget ama boneka yang disebut boneka Reborn Doll. Boneka yang mirip banget ama bayi asli.kayak gini ni.



Dan sekarang lagi giat nabung buat beli ini boneka. Lagi ngidam banget pengen punya bayi.

Three

Dan tahu ga sih kalo harga boneka reborn doll itu mahal banget antara $100 – $1.200 .

Four

Tau ga sih kalo kbahagia itu sederhana.. hanya dandan cantik, pergi ke bioskop dan nonton Mockingjay aja bisa bikin bahagia kok, hehe .

Saturday, 22 November 2014

KAWAII COLLECTION : CHRISTMAS EDITION

Hallo Reader..

Ga berasa uda bulan November ya, bentar lagi December dan Christmas..

Uda punya accesorries yang bisa dipake Christmas nanti belum?
Kawaii Collection punya banyak koleksi accesorries untuk Christmas lo. Yuk diorder

Bando Santa 001
IDR 25.000

Bando Santa Ulir
IDR 35.000


Bando Snowman
IDR 35.000

Bando Tanduk Rusa
IDR 30.000

Bando Tanduk rusa Sunhwa & Hanna secret
IDR 55.000


Bando Tanduk Rusa Sooyoung
IDR 50.000


Bando Rusa Ulir
IDR 55.000

Minat?!!
Contact me : SMS 087853864904
                    BBM 7CCB9C63

Thank you

Friday, 14 November 2014

SUROBOYO CARNIVAL






Hai Reder..
Mungkin yang berdomisili di wilayah Surabaya- Gresik dan sekitarnya pasti uda pada tahu ya dengan yang namanya Suroboyo Carnival. Ya kalo belum pernah kesana minimal uda pernah denger la ya. Jadi baru hari Minggu kemaren aku ke sana . telat banget ya kalo baru kesana sekarang mengingat tempat ini uda di buka sekitar 3 bulana yang lalu apalgi aku juga tinggalnya di Gresik dan hampir tiap hari juga ke Surabaya.

Jadi ceritanya selama ini aku uda sering denger dari sana sini tentang Suroboyo Carnival ini, dan dari cerita yang beredar ini tempat super keren. Jadinya aku jadi pensaran pengen kesana dan baru bisa terealisasi hari Minggu kemaren.

Lokasinya si Jl. Tol Waru Juanda. Harusnya mudah donk ya nyari lokasinya tapi nyatanya kita malah sempet nyasar, bingung , mana ga ada plakat ato spanduk ato apapun lah yang bisa digunain sebagai petunjuk. Setelah nanya sana sini akhirnya ketemu juga lokasinya.

Saat pertama sampai di lokasi kesan pertama saat berada di depan pintu masuk adalah ‘ Wih.. ini sih keren’. Dan kesan setelah masuk jadi ‘ Lho kok Cuma gini doank’ sambil bengong. Jujur rasanya bener bener jaug dari ekpektasi aku sebelumnya. Pikirku tempat ini bakal bisa sekeren Batu Night Spectakuler (BNS) gitu tapi ternyata.. cuma sekedar Night Market biasa. Wahananya sama seperti Night Market kebanyakan, ada bianglala, komidi putar, rooler coaster, dll, ga seberapa menarik menurutku walaupun ada lah beberapa yang cukup ekstrim tapi overall aku nganggepnya ini sih biasa aja bener bener jauh dari rumor yang beredar. 














LOVE BEFORE







Aku mengetuk ngetuk jemariku dengan malas diatas meja kayu. Mataku terpaku pada bingkai foto yang terpajang di dinding sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan.

Foto pernikahan kami.

Maura dan aku. Maura terlihat begitu bersinar di dalam foto itu. Senyum lebar terpancar di wajahnya. Aku bahkan tidak ingat kalau dia pernah tersenyum begitu lebar selain saat kami menikah.

Foto itu adalah satu satunya foto yang masih tersisa di rumah kami. Yang lain telah musnah. Entah itu dibanting, dirobek, atau hanya sekedar dimusnahkan dan disimpan di belakang lemari.

Suara gemerincing kunci yang diputar di pintu depamn mengalihkan perhatianku. Dan tiba tiba aku merasa takut dengan apa yang akan terjadi.

“ Maura? Apa itu kau?”

“ Memangnya ada orang lain yang tinggal disini selain aku?” teriaknya sarkastik dari ruang depan.

Pertanyyaan bodoh, seharusnya aku tahu itu. Aku menelan ludahku dengan susah payah menunggunya muncul di hadapanku. Da beberapa saat kemudian dia sudah muncul dan berdiri disana. Masih secantik dulu bahkan setelah semua trauma yang dialaminya –Yang kami alami-.

“ Maaf.” Ucapku pelan. “ aku tahu itu adalah pertanyan bodoh.”

“ Ya. Sangat bodoh!” Maura berjalan lurus melewatiku dan berhenti di depan meja dapur. Membuka lemari yang bergantung di atasnya. Dia sedikit meringis karena pergerakannya itu.

Tanpa mengucapkan apapun aku meraih pergelangan tangannya dengan lembut dan menahannya untuk tidak mengambil gelas itu sendiri. Dia mendengus sebal karena sikapku. Satu hal yang sudah biasa bagiku selama beberapa bulan ini. Hanya saja, kali ini alasannya sedikit berbeda dari alasan yang aku punya beberapa minggu lalu.

“ Apa kau yakin kau sudah siap kembali bekerja? Kau bahkan tidak bisa mengangkat tanganmu tanpa meringis sakit.” Ucapku padanya dengan sangat lembut. Karena aku tahu jawaban apa yang akan aku dapat darinya.

“ Lalu apa yang harus aku lakukan? Tidur diatas kasur sepanjang hari?” Maura mengambil gelas ditanganku dan menuangkan segelas air untuknya.

“ Isrirahat bukan sesuatu yang buruk, Ra.”

“ Kau bisa istirahat selama yang kau mau Kris!” balasnya ketus “ Kau bisa menghabiskan waktu sesuka hatimu diatas kasur dan membiarkan pikiran pikiran itu memakanmu.”

Aku memegang pergelangan tangannya lembut dan menariknya pelan. Memberi isyarat baginya untuk duduk.

Saatnya bagiku untuk ikut campur.

“ Aku akan membewamu ke dokter, agar dia bisa menyatakan kalau kau benar benar belum boleh kembali bekerja.” . Dia terbelalak menatapku. Pikirannya pasti sedang memproses apa yang baru saja aku katakana padanya.

“ Kau tidak bisa begitu saja memerintahku untuk pergi ke dokter!” ucap Maura pada akhirnya, dengan suara yang mulai meninggi.

“ Aku tak memerintahmu Ra, aku hanya meminta.”

“ Dan jika aku menolaknya?”

“ Jika kau menolaknya, maka aku kan mengembalikan ini padamu.” Aku memainkan cincin yang tersemat di jari kiriku.

Aku sedang bersikap kasar, aku tahu itu. Sebenarnya ini cukup menyakitkan juga untukku. Tapi aku harus melakukannya.

“ Apa kau sedang mengancapku?” mata Maura menyipit. “ Apa kau benar benar suamiku? Karena aku tahu suamiku tak akan pernah menceraikanku dengan alasan bodoh seperti ini.”

Kulihat matanya mulai berkaca kaca. Dan ini adalah sebuah petanda baik. Setidaknya dia tidak mati rasa. Emosinya tersulut. Menurut dokter, itu lebih baik daripada tidak merasakan apapun sama sekali. Itu tandanya Maura mulai mau berdamai dengan .. trauma yang dia alami.

“ Well, mungkin kau tidak benar benar mengenal suamimu dengan baik.”

Air mata itu menghilang dan mata itu kini menyala dengan sebuah api yang begitu familiar bagiku.

“ Kau brengsek!” suara Mura terdengar kasar. “ Kalau begitu akau akan menceraikanmu terlebih dahulu sebelum kau sempat menceraikanku!.”

“ Tidak jika aku bisa menbatalkan pernikahan ini sebelum itu.” Jawabku.

Air mata itu kembali menggenang dipelupuk matanya. Dan itu benar benar menghancurkan hatiku.

“ Apa yang kau katakan?” Maura menyeka air mata yang bergulir dipipinya kasar.

“ Yang aku katakan adalah, jika aku tidak bisa menjadi suami yang KAU BUTUHKAN maka mungkin apa yang terjadi diantara kita adalah sebuah kesalahan.”

“ Aku tahu kau tidak bersungguh sungguh mengatakan itu.” Suaranya gemetar, dan ketakutan jelas terpancar di kedua matanya.

Apa dia benar benar berfikir aku akan pergi meninggalkannya. Hatiku berdebar kencang, rencanaku berhasil.

“ Apa kau..” suara maura terdengar lebih pelan sekarang. “ Apakah ini karena aku mungkin tidak akan pernah memberikanmu keluarga besar yang selalu kau inginkan?” Maura menundukkan kepalanya, jemarinya memainkan cincin di tangannya membuat ku merasa lebih sesak dari sebelunya.

“ Kau tahu jawabannya Ra.”

Aku mencoba mengucapkan kalimat sesingkat mungkin. Karena aku tahu jika aku mengatakan kalimat yang lebih panjang mungkin justru aku yang menangis.

Mata bening itu menata lurus mataku, memcoba membacaku.

“ Benarkah aku tahu?” jawabnya lemah sembari menyeka air matanya.

“ Ya, kau benar benar tahu.” Aku meraih tangan Maura ke dalam genggamanku.

“ Kau tidak sungguh sungguh ingin cerai Kris. Tapi kenapa kau mengatakan itu-“

“ Aku tak tahu harus berbuat apa lagi Ra.” Aku merasakan perlahan air mata turun ke pipiku. “ Kau mengabaikan banyak hal” aku menelan ludahku, menunggu ledakan yang akan keluar dari Maura.

Namun aku terkejut saat dia justru kembali bersikap tenang. Air matanya kembali hilang. Dia sangat tenang, seakan mendengar apa yang kukatakan dengan seksama.

“ Kau bersikap baik baik saja. Kau memasang wajah berani. Dan kau melanjutkan hidupmu seolah olah tidak terjadi apa apa. Jika bukan karena rasa sakit di fisikmu, kau pasti akan berlarian di dalam rumah, mencuci, dan melakukan semua pekerjaan begitu kau keluar dari rumah sakit.”

“ Setiap orang bisa kehilangan bayinya Kris, dan itu bukanlah akhir dari dunia ini.”

“ Tentu saja bukan. Tapi kau diperbolehkan berduka Ra. Kau diizinkan untuk bersedih.”

“ Aku merasakan banyak hal Kris.” Ekpresinya tak terbaca kembali.

“ Tapi masalahnya Ra, kau sama sekali tak merasakan apapun.” Aku mengabaikan rasa sakit yang kurasakan di dalam dadaku saat Maura menarik tangannya dalam genggamanku .

“ Aku menggenggam tanganmu saat pemakaman itu Ra. Kau bahkan tak membiarkan setetes air matapun mengalir di pipimu.”

“ Jadi maksudmu sekarang aku adalah monster berhati dingin? Kalau begitu ceraikan aku.”

“ Apa yang kau inginkan?” aku mengusap air mataku.

“ Kau yang mengungkitnya lebih dulu. Kau kan yg ingin menceraikanku?” katanya datar.

Aku harus berhenti menangis jika aku ingin Maura megerti. Ya Tuhan aku benar benar seperti pengecut sekarang. Dengan sikapku yang seperti ini kalian pasti berfikir kalau aku yang kehilangan bayi dalam perutku.

“ Perceraian bukan jawaban Ra.”

“ Lalu mengapa kau tadi mengungkitnya?”

“ Aku hanya ingin melihat reaksimu. Aku ingin melihat apa kau merespon apa yang kukatakan atau tidak sama sekali.”

“ Lalu apa? Kau sedang mengujiku sekarang? Haruskah kau menjadi lebih brengsek seperti ini dan melukaiku? Membuatku merasakan sakit yang lebih dari yang telah aku rasakan?”

“ kau sama sekali tak menunjuukan kalau kau terluka.”

“ Aku terluka, dan aku tak harus menunjukkannya.”

“ Tak sehat memendam semuanya sendiri Ra.”

“ Menangis juga tak akan ada gunanya. Itu tak akan membuat..” Maura menelan ludahnya “ Membuat bayi kita kembali kan?”

“ Tentu saja tidak. Tapi semua akan menjadi lebih baik.”

“ Semua baik baik saja Kris.”

“ No! semua tidak baik baik saja.”

“ Apa kau membicarakan soal seks? Jika kau merasa horni dan tidak puas dengan aku yang seperti ini kau bisa mendapatkannya di tempat lain.”

“ Aku bisa melewati sisa hidupku tanpa seks selama kau ada disisiku Ra.”

“ Aku ada disini Kris.”

“ Ya. Kau ada disini tapi juga tidak ada disini.”

“ Itu tidak masuk akal.”

“ Tubuhmu ada disini Ra, tapi kau tidak. Wanita yang aku kenal, wanita yang kau cintai telah terkubur di suatu tempat jauh didalam dirimu. Sekarang aku bahkan tidak mengenalmu lagi. Aku tak tahu begaiman harus bersikap disekitarmu. Aku tak tahu kau ingin aku menjadi siapA, menjadi apa.”

“ Jadi ini semua tentangmu kan?” Maura menyilangkan tangannya di dadanya

“ Kau selalu mengambil kesimpulan dari apa yang kukatakan secara sepihak.”

“ Lalu apa yang kau inginkan? Kau ingin kau berteriak?”

“ Itu akan menjadi lebih baik.”

“ apa gunanya? Itu akan membuatku dan kau sakit kepala.”

“ Kau sudah membuatku sakit kepala Ra.”

“ Aku tak bisa, karena aku tak ingin merasakan apapun. Aku tak ingin terpuruk.” Dia akhirnya mengakuinya.

Aku menggeser kursiku lebih dekat dengannya dan menggenggam tangannya.

“ Membiarkan emosimu keluar bukanlah sebuah kejahatan Ra.’

“ Aku tak ingin tidur dimalam hari, karena jika aku memejamkan mataku yang terlihat hanyalah wajahnya.” Maura menahan isakannya. “Wajah yang tak pernah sempat aku lihat. Seorang bayi yang tak pernah sempat aku kenal.”

“Aku tahu sayang, aku tahu.”

“ Karena itu aku menyibukkan diriku sampai aku benar benar lelah dan tidak bisa melakukan apapun selain tidur. Aku bahkan tidak ingin bangun dari tidurku saat pagi tiba.” Akunya. Matanya yang berkaca kaca menatap lurus ke matakku. Rasa sakit itu membuatku dadaku sesak.

“ Tapi kau tetap melakukannya.” Jawabku, berusaha agar dia tetap bicara.

“ Itu karena aku tak ingin menjadi bagian dari mereka yang berfikir kalau kehilangan bayi adalah akhir segalanya. Ada begitu banyak kejadian yang lebih buruk diluar sana daripada sekedar kehilangan seorang bayi. Aku tak ingin membuat orang lain khawatir.”

“ Tapi itu bukan tanggung jawabmu Ra.”

“ Aku bahkan sudah cukup beruntung. Aku memiliki segala sesuatu yang bisa di beli dengan uang. Secara materi aku tidak merasa kekurangan apapun. Aku mempunyai lebih dari yang aku butuhkan. Aku memilikimu, suami yang begitu sempurna. “ air mayanya turn semakin deras.” Kau membuatku begitu bahagia Kris. Lalu apa yang aku lakukan? Membunuh bayi pertamamu?”

Mataku melebar.

“ Maura, lihat mataku.” Aku menangkup pipinya dan mengangkat wajahnya agar melihatku. “ Dengarkan aku. Kau TIDAK membunuh bayi kita. Kau mengalami keguguran dan itu sama sekali BUKAN kesalahanmu. Apa sudah jelas?”

“ Seharusnya dia ada bersama kita sekarang kalau saja kecelakaan itu tak terjadi.”

“ Seseorang menabrakmu dan itu bukan salahmu.”

“ Seharusnya dari awal aku tidak mengemudi Kris. Dokter bahkan sedah memperingatkanku kalau rasa pusing yang sering aku alami itu bisa membahayakanku dan orang lain jika aku mengemudi.”

“ Apa kau merasa pusing saat kecelakaan itu?” tanyaku. Sebuah pertanyaan yang sudah kuketahui jelas jawabannya.

“ Aku memang tidak pusing, tapi..”

“ Tidak ada tapi tapian Ra. Itu BUKAN salahmu.” Bahu kecil itu mulai bergetar saat ia mulai menangis dan aku segera menariknya ke dalam pelukanku, berusaha menenangkannya.

“ Aku sangat mencintainya Kris.”

“ aku tahu sayag. Aku tahu. Aku juga. Kita semua mencintainya.”

“ Aku hanya.. ingin melupakan semuanya. Aku ingin melupakan kenyataan kalau ini pernah terjadi.”

“ kita akan selalu mengenangnya dan menyayanginya.” Bisikku sembari mencium puncak kepala Maura berulang.

“ Saat aku mendengar dia telah pergi, aku merasa gagal.”

“ Gagal? Bagaimana bisa?”

“ Aki tidak tahu. Aku merasa setelah semua yang kaulakukan untukku, aku bahkan tak Bisa membalasmu dengan seorang bayi. Aku tak bisa menjaga dan mempersembahkannya untuKmu.”

“ Semua tentangmu adalah tentangku juga Ra. Kau tak berhutang apapun padaku. Kau membalas semua yag kulakukan lebih dari yang bisa aku berikan. Suatu hari nanti saat rumah ini dipenuhi dengan Maura kecil dan Kris kecil kau akan mengingat hal ini dan menyadari betapa kuatnya dirimu. Baik secara fisik maupun mental.”

“Bagaimana kau bisa yakin?”

“ Kau tak mendengar apa kata dokter? Kau baik baik saja. Rahimmu juga baik baik saja. Kita bisa punya bayi lagi.” Bisikku

“ kau benar benar suami yang sempurna Kris.”

Sebuah tawa kecil keluar dari bibir Maura. Dan hatiku berteriak senang saat mendengar suarA berharga itu.

“ Tidak lebih sempurna darimu Queen.” Ujarku seraya mencubit hidung mungilnya.
“ Boleh aku lihat lukamu?”

Untuk sesaat aku berfikir kalau Maura akan menolak dan akan menembunyikan tubuhnya dariku. Tapi kenyataannya tidak. Dengan perlahan dia mengangkat bajunya sampai aku bisa melihat bekas luka diperutnya. Jariku bergetar saat menyentuh kulitnya dan menggerakkannya secara perlahan pada satu satunya bekas luka fisik yang menandai adanya kehidupan singkat bayi perempuan kami yang belum sempat lahir.

“ Apa aku menyakitimu?” tanyaku panic saat aku melihat air mata menetes dipipinya.

Maura menggeleng cepat dan kembali meletakkan tanganku di perutnya.

“ Tidak, tidak sama sekali hanya saja.. sudah cukup lama sejak terakhir kali kau menyentuh perutku.” Tangis Maura kembali pecah. “ Terakhir kau menyentuhnya, dia menendang nendang.”

Aku menelan kembali isakanku dan menarik cintaku ke dalam pelukanku.

“ Aku tak percaya aku begitu sering mengeluh saat dia menendang nendang. Semuanya tampak begitu…”

“ Ra.” Bisikku membawa tubuhnya sedekat mungkin dengan tubuhku.

“ Hmm..” Maura mengenkat kepalanya dari dadaku, mata menatapku.

“ Saat kau- “ aku menelan ludahku kasar “ Sebelum mereka membawamu ke ruang operasi…” aku berpaling dari tatapan khawatirnya, seakan tak mampu menatap matanya saat aku harus mengucapkan ini.

“ Aku menyuruh mereka menyeamatkanmu.”

Saat mataku kembali terfokus padanya aku bisa melihat ekspresi bingung di wajahnya. Aku menggelengkan kepalaku saat aku merasakan bulir bulir air mata yang menyakiti mataku .

“ Aku mengatakan pada mereka jika seandainya aku disuruh memilih…”

Wajah cantik Maura berganti dengan ekspresi terluka saat menyadari apa yang aku ucapkan.

“ Aku sangat takut.” Lanjutku, seolah tak bisa berhenti berbicara “ Aku sangat takut kehilanganmu Ra. Aku tahu ini terdengar sangat jahat, tapi saat itu yang kupikirkan hanya ada satu Maura di dunia ini..”

“ Dan kita bisa punya bayi yang lain.” Maura menyimpulkan.

Aku mengenggelamkan wajahku pada rambutnya dan aku menikmati sensasi saat lengannya melingkar di pinggangku, menarik tubuhku agar lebih dekat. Aku tahu dia sedang mencoba menenangkan dirinya dan diriku.

“ kau adalah duniaku Ra! “ tangisku “ Dan jika aku harus hidup tanpamu…”

“ Ssshh… “ bisiknya , menghujani wajahku dengan ciumannya yang begitu menenangkan “ Aku tahu sayang. Aku tahu.”

“ Aku tak tahu apa yang aku lakukan jika terjadi sesuatu padamu.” Aku menangis. Menumpahkan semua emosi yang telah lama aku simpan sejak aku menerima panggilan dari Rumah Sakit, memberitahukanku tentang kecelakaan yang dialami istriku yang sedang hamil. Kecelakaan yang bisa saja merenggut Maura dari sisiku bersama dengan putrid kami yang belum lahir.

“ Aku berfikir kalau aku bisa membuat pilihan, itu terdengar sangat mengerikan . Tapi…”

“ Aku mengerti.” Ujarnya meyakinkan. “ Aku juga akan melakukan hal yang sama.”

“ Teima kasih.” bisikku “ Terima kasih .”

“ Kau tak perlu mengucapkan terima kasih” Maura menangis bersamaku. Mencium bibirku berulang ulang “ Aku sangat mencintaimu.”

“ Kau terlihat sangat pucat. Aku pikir.. kau telah meninggalkanku.”

“ Ssshhh.” Maura mengusap punggungku sayang dalam pelukannya. Membiarkan air mataku membasahi bajunya. “ Aku ada disini. Aku baik baik saja.”

“ Ketika mereka menemukan denyut nadimu, aku merasa seperti bernafas lagi. Dokter bilang kau meiliki banyak luka dalam, aku bahkan tak bisa mencerna apa yang dikatakan dokter saat itu. Aku bahkan tak memikirkan putrid kita sama sekali. Bukankah aku adalah seorang ayah yang jahat?” ratapku.

“ Saat itu kau mengkhawatirkanku. Kau pasti akan menjadi ayah yang baik suatu saat nanti.”

“ Saat itu aku tak memikirkannya. Aku begitu mati rasa saat itu. Aku sangat ingin melihatmu membuka matamu. Hanya itu yang aku pedulikan.”

“ Itu normal sayang.”

“ Dan ketika mereka membawamu ke ruang operasi aku benar benar tak ingin kau pergi dari pandanganku. Aku tak bisa menunggu di luar tanpa tahu apa yang terjadi padamu. Dan saat aku memikirkan bagaimana mereka membuka dan membelah tubuhmu.. aku benar benar tidak bisa.”

aku mengambil waktu untuk bernafas.

“ Dan saat mereka keluar ruang operasi untuk mencari lebih banyak darah. Aku panik. Aku mengatakan pada mereka untuk mengambil semua darahku jika itu bisa menyelamatkanmu.”

“ Golongan darah kita tak sama Kris.” bisiknya, menyeka air mataku dengan lembut.

“ Aku tak bisa berfikir rasional Ra. Aku hanya ingin kau..”

“ Hidup.” aku mengangguk

“ Dan mereka bilang bayi kita juga membutuhkan tranfusi darah. Ia tidak..” aku menangis tersedu sedu. “ Dia belum pergi saat itu. Mereka mengatakan kalau dia memiliki darah yang sama denganku. Jadi mereka mengambil darahku. Tapi itu tak cukup.”

“ Kau melakukan semua yang kau bisa.”

“ Seharusnya aku bisa lebih berusaha lagi.”

“ Tidak ada yang bisa kau lakukan sayang.” Maura mengusap kepalaku lembut.

“ Saat kau keluar dari ruang operasi...” bayangan itu akan tetap terpatri di dalam kepalaku. “ Kau terlihat begitu rapuh. Bahkan aku berfikir kalau sebuah sentuhan kecilpun akan membuatmu hancur. Dan perutmu sudah tak sebesar sebelumnya.mereka bilang jika aku mau melihatnya. Tapi aku tak pergi. Aku tak bisa meninggalkanmu. Aku tak pergi untuk melihat putri kita selama beberapa jam dia ada di dunia ini Ra. Yang aku pikirkan hanya dirimu. Dan mereka tidak bisa membawa putri kita padaku karena dia ada di ruang inkubator.”

aku menghela nafas

“ Saat itu tanganmu disangga Ra. Aku ingat sekali . Mereka bilang tanganmu rusak karena kau meletakkan tanganmu diatas perutmu sebelum tabrakan itu terjadi. Hal pertama dan terakhir yang kau pikirkan adalah bayi kita. Sedangkan aku hanya memikitkanmu dan bagaimana aku akan menjalani hidup tanpamu. Putri kita juga membutuhkanku. Tapi aku tak pergi untuk menemuinya.”

“ Itu bukan salahmu Kris. Dia belum cukup umur untuk hidup.” Maura begitu kuat. Bagaimana dia bisa melakukannya?

“ Tapi seharusnya aku menemuinya. Aku bisa mengatakan padanya bahwa kita sangat mencintainya.. aku bisa menyentuhnya..”

“ Paru parunya sangat kecil. Dia lahir 3 bulan sebelum waktunya. Dia tidak mungkin bisa bertahan.”

“ Maafkan aku.” tangisku “ Maafkan aku. Ini salahku dan justru kau malah menyalahkan dirimu. Justru kau yang menyalahkan dirimu. Jika saja aku melihatnya dan mengatakan kita sangat mencintainya mungkin dia akan berjuang.”

“ Tidak Kris. Dia memang masih terlalu kecil.” Maura mengusap air mataku. “ Aku yakin dia sangat tahu kalau dia sangat dicintai orang tuanya.” ia membawaku dalam dekapannya. “Aku yakin dia tahu kalau kau sosok ayah yang terbaik.”

“ Apa kau tak ingat saat dia merespon suaramu.” ucap Maura lembut. Tatapan sayangnya tak pernah meninggalkanku. “ Setiap kali kau bicara dia akan menendang. Setiap kali aku berbuat kasar padmu dia menendang sangat keras, seolah menyuruhku untuk berhenti memarahimu.” Maura tertawa pelan. “ Bayi kita sudah jadi putri kecil Papa bahkan sebelum dia lahir. Dia juga mencinbtaimu.”

Kata kata Maura semakin membuatku menangis hebat dan memeluknya semakin erat. “ Dimalam hari, saat kau meletakkan tanganmu diatas perutku dan berkata padanya untuk menunda permainan bolanya selema beberapa jam agar aku bisa tider, dia akan mendengarnya dan menurut. Aku bahkan sangat cemburu pada ikatan diantara kalian berdua.” ucapnya seraya tertawa pelan. “ Aku adalah orang yang mengandungnya tapi dia malah lebih dekat denganmu.”

“ Dia pasti akan sangat mencintaimu. “ bisikkku sambil menatapo istriku yang cantik. Mauraku. Dia pasti akan menjadi ibu yang baik. Itu pasti. Suatu saat nanti.

“ Dia akan menjadi sanagt mirip denganmu. Tersenyum manis sepertimu.” Maura tertawa dengan ucapannya sendiri, membuatku ikut tertawa bersamanya. “ Lalu dia kana berlari padaku dan mengeluhkan betapa papanya terlalu overprotective.”

“ Kalau itu aku pasti akan melakukannya Ra.” aku mencoba untuk tersenyum. Tapi hatiku sangat sakit. “ Aku mencintainnya Ra, sangat.”

“ Aku tahu. Dan dia juga pasti tahu.”

“ Tapi aku tak ada disampingnya saat dia membutuhkanku.”

“ Dan aku tahu, dia tak ingin berada di tempat lain saat itu.”bisiknya “ Dia tahu mamanya juga sangat membutuhkanmu.”

“ Dan aku juga membutuhkanmu Ra.”



                                                                        end



Nb. Gambar nya itu bukan hasil editanku sendiri. itu hasil comot. ga semper ngedit soalnya.