Saturday, 23 June 2012

THE STORY I DIDN'T KNOW (PART 7)

                 Persiapan pekan kebudayaan sudah mencapai klimaks. Aku mulai terbiasa dengan kehidupanku yang seorang diri, dengan mood anak2 di kelasku, dan dengan semua tingkah polah Jiyeon.

“ Seungho, kamu mau melakukan apa?” tanya Changdo memimpin rapat.

“ Changdo! Kita buat sesuatu yang menghebohkan yuk!” usul Suzy

“ Menghebohkan, memangnya apa usulmu?” tanya Changdo

“ Bagaimaan kalau kita ubah kelas kita menjadi ruang pemotretan. Dengan kamera digital kita bisa memotret tamu. Lalu biar menarik kita hadirkan kostum2 yang beragam. Selain itu kita juga adakan pelayanan make up, lalu kelas kita memakai kostum ALICE IN WONDERLAND, anak perempuan memakai kostum Alice dan anak laki2 memakai telinga kucing atau kelinci untuk menarik para tamu.” jelas Suzy

“ usulan diterima.”

“ Tunggu! Lalu inti dari acara ini apa?” Tanya ku

“ MELEPASKAN RASA MALU DAN DUNIA NYATA. MARI KITA PERGI KE WONDERLAND!” Teriak Suzy dan Jiyeon



-HARI PEKAN KEBUDAYAAN-



             Pekan Kebudayaan Sewon high School diadakan 2 hari, Jumat dan Saptu di Awal November. Yang di gelar murid kelas 1-A adalah ‘tempat pemotretan dengan pelayanan ekstra dan kostum yang lucu’.



“ WELCOME TO WONDERLAND!” sapa Jiyeon dan Suzy di depan kelas 1-A







                 Mereka memang di jadikan maskot kelas kami.

“ Wah.. manis sekali ya!” kata Heechul

“ Jinnja? Gomawoo.” Kata Suzy tersenyum

“ Wah..kelasmu banyak pengunjungnya.” Kata Heechul

“ Pakaiannya banyak sih, layanan pemotretannya benar2 berhasil.” Jawab Jiyeon

“ Oh, mana Seungho?” feelingku mengatakan kalau dia bakal berpenampilan menarik. Makanya aku datang kesini.”

“ Tunggu sebentar ya! Anak kucing kami memang sedikit pemalu. Hei Seungho, ada Heechul lho.” Teriak Jiyeon “ Percuma saja sembunyi ayo keluar…” Jiyeon menyeretku







 “Ini anak kucing dari mana?” teriak Heechul

“ Kami memungutnya di jalan, hhahahaha.” Jawab jiyeon.

“ Aku kan malu berpenampilan begini!” teriakku

“ Sunbae, boleh minta foto?” kata salah satu pengunjung

“ Ne, dengan senang hati.” Jawab heechul

“ wah, sunbae populer ya!” tanyaku

“ Tentu saja. Seungho.. ayo ikut!” Jiyeon tersenyum





-Ruang OSIS-



         “ Yoseob, kenapa ada disini?” tanya Eli

“ Lagi ngungsi, habis di luar berisik bangt.” Jawab Yoseob ketus






 “ Nggak ke tempat Jiyeon? Disana katanya ramai lho.”

“ Belum. Jiyeon itu suka sekali acara2 seperti itu ya!” kata Yoseob

“ ne.” jawab Eli

“ seingatku dia juga suka berkeliling kesana kemari.”

“ Ne”

“ Kamu Cuma bisa ngomong itu ya?” bentak Yoseob

“ Ne.”

“ Ada lagi, dilihat dari sudut pandang Eli sekalipun, yang terpenting bagi Jiyeon adalah JB.”


Ruang Data-



   “ Katanya JB mau datang ke pekan kebudayaan ini?” kata Nana

“ Tidak jadi. Dia ada urusan.” Jawab Kwangmin tersenyum

“ Apa cuma perasaanku saja ya? Kok kamu kelihatannya senang dia tidak jadi datang? Ya aku sih tahu bagaimana perasaanmu yang tidak ingin mempertemukan JB dan Jiyeon, juga perasaanmu yang ingin membiarkan keadaan tetap seperti ini. Tapi bagaimanapun juga JB itu awal dan akhir semua keadaan. Jiyeon akan terus mencari cincin itu, bagaimanapun juga aku tak bisa berfikir kalau ingatan JB akan kembali seperti semula.”

“ Wah Nana sangat mengerti ya!” Kwangmin cengengesan

“ Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?”

“ Mempertemukan JB dan seungho. JB bilang dia ingin pergi ke kamar 205. Seungho yang menempati kamar itu juga sudah tahu seluk beluk keadaan yang sebenarnya. Kalau Seungho, aku yakin tak akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti Jiyeon. Ya.. walaupun kadang dia suka ikut campur.”

“ Bukannya kau juga suka ikut campur?” ejek Nana

“ Ya, bagaimanpun juga terkadang ada masalah yang tak bisa di selesaikan sendiri. Butuh orang untuk yang ikut campur.”




Ruang pemotretan / Kelas 1-A –



           “ seungho, membosankan!” teriak Jiyeon “ Heechul..bisa nggak kamu pose bareng Seungho?”

“ Maunya yang bagaimana?” jawab Heechul

“ Yang romantis!” Jiyeon cengengesan

‘ Oh.. Sengho kan jago yang begituan. Maksudku pose ‘menggendong tuan putri’”

“ MWO??” teriak seisi ruangan

“ Jadi ini permainan kami waktu SMP,sejenis hukuman, dia disuruh memilih menggendongkku atau push up 50 kali. Dan dia memilih menggendongku.”

“ Seungho, gaya seperti itu boleh juga. Ayo kita foto.” Kata Changdo

“ Jangan enteng begitu donk ngomongnya!”

“ Pokoknya Seungho harus foto!” paksa Jiyeon

Aku menatap Jiyeon tajam. Tiba2 aku mendapat ide menarik

“ Sepertinya kau ringan.”

“ mwo?”

             HUP

“ Tu..tunggu! kenapa aku yang di gendong???! Teriak Jiyeon “ TURUNKAN AKU..”

“ Kenapa?”

“ Aku..”

“ kau malu ya?”

Jiyeon tak menjawab, tapi aku bisa melihat pipinya memerah

“ CHANGDO.. AYO FOTO KAMI!”

“ Wah.. tumben sekalil seungho bersemangat. Jiyeon ayo seyum.” Changdo memotret kami

“ KYAAA…”





“ Eli, itu siapa?” tanya Yoseob yang kebetulan lewat

“ Seungho, memangnya kenapa?”





                                                              ***





                 Akhirnya acaranya selesai juga.. capeknya.. ranjangku..sepertinya sudah memanggil.

Aku berjalan gontai menuju rumah. Sebenarnya tadi Kwangmin. Menawariku naik mobil tapi aku tolak karena disana ada heechul jga. Kalu aku ikut, di mobil pasti mereka menganiayaku lagi. aku ingin hidup tenang. Tiba tiba aku melihat seorang namja berdiri di depan pintu rumah? Siapa ya? Biasanya aku tak punya tamu. Akupun memutuskan untuk mempercepat langkahku.

“ Hai.” Sapa namja itu yang sontak membuatku kaget. Kenapa orang itu ada disini?





 JB..Kenapa ada di depan rumahku?

“ Kau penghuni kamar 205 kan? Perkenalkan namaku Lim Jaebum aku mantan penghuni kamar ini sebelumnya.”

Ternyata.. wajahnya lebih tampan dari yang kulihat di foto. Ini.. orang yang disukai Jiyeon. Tunggu! Kalau dia ada disini situasinya bisa gawat, kalau jiyeon melihat.. tidak boleh, dia harus di sembunyikan. Akupun langsung menyeretnya masuk.



               BLAAMMM

               Akupun langsung mengunci pintu dan mematikan lampu ruang tamu, Pokoknya selama ada orang ini disini tidak boleh ada yang bertamu ke rumahku terutama Jiyeon

Hanya.. keadaan ini juga sama buruknya.

“ Akhirnya aku bisa masuk kamar ini juga.” Kata JB

“ Kenapa kau kemari?”

“ Itu ada alasannya.” Jawab JB

“ Alasan?apa itu ada hubungannya dengan ingatan?”

JB tersenyum. “ Namamu siapa? Sepertinya, pembicaraan kita akn panjang.”

               Orang ini…

“ Aku Yo Seungho.”

“ Kau memakai seragam SMA Sewon, kau murid disana?”

Mwo.. dia belum tahu? Lalu kenapa dia PD datang kemari?

“ Ne.” jawabku ketus

“ Jadi, kau murid Kwangmin. Dia dan Nana sama sekali nggak cerita. Dasar sialan mereka.” Kata JB cengengesan

               Orang ini, ngomong ‘sialan’ dengan ekspresi seperti itu? JB ini adalah orang yang telah memberi bermacam2 pengaruh pada Jiyeon

“ Seungho, menurutmu, berapa umurku?” tanya JB tiba2

“ Hah? Menurutku 27 tahun. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“ Benar, umurku 27 tahun, tapi.. itu umur yang sebenarnya. 3 tahun yang lalu waktu aku membuka mata, aku kaget kenapa tiba2 aku berada di rumah sakit. Dan rasanya seperti aku berumur 12 tahun saat aku baru mengituki tes masuk SMP.”

“ Jadi kau tak lupa semuanya?”

“ Yup! Aku tahu siapa diriku, orang tuaku. Tapi saat sadar semua ingatanku saat SMP, SMA, kuliah semuanya seakan terlewati. Aku benar2 kaget lho waktu melihat diriku sendiri di cermin. Aku bahkan mengatakan ‘kakak2 ini siapa?’ pada Kwangmin dan Nana. Kepala rasanya di hantam benda keras, rasanya masih terasa jelas.”



                   Inikah JB yang sekarang? Apa dia tahu soal cincin ya? JB hanya mengingat sebatas sampai dia berumur 12 tahun. Artinya JB juga tidak mengingat saat dia bertemu Kang Sora di SMP.



“ Wah.. rumah Kwangmin terlihat dari sini ya?” kata JB sambil mengamati dari jendela

“ BODOH!” aku langsung menariknya “ Kalau kau didekat jendela nanti dia melihatmu!!”

“ Siapa? Jiyeon?”

“ Apa kau mengingatnya?”

“ Tidak. Aku seperti dalam mimpi,bayangan yang kadang2 muncul. Seperti kemarin saat aku melihat foto2 album kelulusan, di dalam album itu seperti tiba2 terlintas di mataku. Aku seperti melihat aku dimasa depan dan sedang tertawa. Kisah yang aneh ya.”



                 Sebenarnya, kenapa dan apa yang menyegel ingatan orang ini?



“ Ah.. maaf aku jadi ngelantur. Terima kasih ya sudah diizinkan masuk. Aku mau pulang.” Kata JB berpamitan

“ Tunggu! Apa ada sesuatu yang diingat?” tanyaku

“ Kalau itu tak usah dipikirkan. Walau aku tak mengingat apa2 aku nggak merasa terganggu kok. Jadi tak bisa ingat kembalipun tak masalah.”



                Apa? Lalu, untuk apa usaha mati2an Jiyeon selama ini?



“ Lalu untuk apa? Untuk apa kau datang kemari?” teriakku

“ Untuk..menangkap sesuatu. Sesuatu ang tak pernah kumengerti. Aku yang sebelumnya dan aku yang sekarang memang berbeda. Tapi masih ada sesuatu yang tersisa yang bisa kukerjakan. Perasaan yang tak kumengerti ini. Satu persatu ku kumpulkan, kupintal, dan di ujungnya..mungkin saja ada jawaban.”

“ JB! Ceritamu barusan aku menegrti kok. kau yang selalu merasa tidak lebih dari sekedar ‘tokoh yang muncul’ tapi sekarang ada di depanku. aku bisa menyentuhmu, jadi kau bukan didalam mimpi, kau benar2 ada disini. Kau nyata!”

“ Benarkah? Terima kasih.”



                        Kalau jadi orang ini, mungkin aku saat ini akan kehilanagn akal dan putus asa.



“ Seungho, kamu mudah diajak ngobrol ya. Aku boleh datang lagi?”

“ Silahkan. Eh.. Tunggu! Maksudku..”

“ sampai nanti, sampai ketemu lagi ya!”



               Da..datang lagi? bisa gawat! Dasar JB setengah matang. Eh ada sms dari Jiyeon. Aku.. jadi punya rahasia yang tak bisa kukatakan.







                                                                         ***

-KEESOKAN HARINYA DI SEKOLAH-



                    Hari ini ada yang aneh dengan tingkah Jiyeon, jika aku mendekat dia menjauh. Kebalikan dari yang biasanya, tapi..aku menyukai reaksinya yang seperti ini.

“ SEUNGHO! KENAPA SIH KAU MENGEJARKU TERUS?” teriak Jiyeon dengan wajah memerah

“ kau sendiri kenapa menghindar terus? Kau tahu, merupakan suatu penyegaran melihat situ gugup dan kebingungan.” Jawabku

“ Wah..jadi ingin lihat wajah Jiyeon yang diluar dugaan.” Kata Changdo sambil memperhatiakan foto kami di pekan kebudayaan



                “ Jiyeon!” panggil Yoseob di depan pintu

“Yoseob. Ada apa?”

“ Bisa sebentar?”

“ Ne.” Jiyeonpun menghampiri Yoseob



                    Aku memperhatikan mereka berdua, Yoseob memandangku, baru kali ini. Tapi..kenapa pandangannya sinis begitu?



“ Seungho, memangnya kamu berbuat apa pada orang itu?” tanya Sezy

“ Maksudnya?”

“ Yoseob itu nggak pernah peduli dengan orang lain. Orang yang benar2 bisa berteman akrab juga sedikit. Dengan begitu diluar teman akrab itu artinya ‘pandangan permusuhan’.”

MWO? Memangnya aku telah berbuat salah?

“ Sebenarnya aku telah dititipi pesan dari oppa.” Lanjut Suzy. “ katanya Seungho harus berhati2.”







‘ Itu.. penghuni kamar 205?” tanya Yoseob

“ maksudmu Seungho? Iya. Dia itu karakter orang yang tertindas. Pokoknya selalu tertindas. ”

“ kau sudah masuk kamarnya?”

“ Eh..sudah.”

“ cincinnya..sudah ketemu?”

“ Yoseob, pasti langsug ngomong gitu deh.” Jiyeon cemberut

“ Aku memang sedag mengintrogasimu kok. Kenapa, aku kau membenciku?” Yoseob tersenyum sinis

“ Itu tidak perlu. Mana bisa aku membencimu?” Jiyeon tersenyum “ Bukankah sudah kukatakan, kita kan berteman.”

“ Bagi Jiyeon, JB itu apa?”

“ Seumur hidup, adalah orang yang special.”

Yoseob diam..

“ Yoseob..”

                  Tiba2 Yoseob menarik tangan Jiyeon.

“ Yoseob, kau mau menggigitku ya?”

“ Aku tak menggigit!”

“ Oh.. haha..sudah lama ya, kita tidak seperti ini.” Kata jiyeon sambil mengayun2 akan tangan Yoseob “ Dulu kan aku sering menarikmu berkeliling.”

                     Yoseob kembali terpaku. Lalu melepaskan tangannya dan meninggalkan Jiyeon.







-RUANG OSIS-



“ Hei, Jiyeon kenapa?” Tanya Yoseob

“ Memangnya kenapa?” jawab Eli

“ Hari ini dia bisa bicara denganku.”

“ Selamat.”

“ kugigit lho!”

“ Kamu ingin mengubah Jiyeon seperti Jiyeon yang dulu?” Tanya Eli

“ kau mau bilang dia sudah berubah?”

“ Memang begitu kan?”

“ Bagiku tidak!”

“ Kamu lihat sendiri kan? dari awal bukankah sudah kukatakan Jiyeon sudah kembali ceria.”

“ Eli, kau meyebalkan.”

“ Bukankah kau yang menyebalkan? Cobalh seperti JB!”

“ JANGAN SEBUT NAMA ORANG ORANG ITU!”

Eli menatap Yoseob tajam






“ Padahal dirinya sendiri ingat, tapi masa dengan orang yang didekatnya lupa. Benar2 kejam.” gerutu Yoseob “ Menurut Ali bagaimana?”

“ Jiyeon merasa menyesal atas ke khilafannya.”

“ ITU KARENA JIYEON BODOH!” bentak Yoseob “ Sampai harus memutuskan untuk menemukan cincin itu segala lagi!”

“ Makanya Jiyeon terus mencarinya bukan, cincin yang dipikirnya suda nggak ada.” Sahut Eli

“ Itu yang kusebut bodoh. Padahal dia kan nggak harus mencari benda itu. Habis..cincinnya kan ada disini.” Kata Yoseob menggeluarkan sebuah cincin dari sakunya.






KORIDOR-



           “ Seungho kamu nggak sama Jiyeon?” Tanya Kwangmin

“ Dia di ruang klub. Sedang main bareng Heechul.”

“ oh..hari ini kau datang ke rumah kan? Kemarin sudah terima sms dari jiyeon?”

“ Kau tahu kan semalam JB ke rumahku.” Tanyaku sinis

“ Aku tahu.”

“ KAU SELALU SEPERTI ITU! MEMBOHONGI ADIK SENDIRI. MEMBUATKU LEPAS KENDALI SEBENARNYA APA MAUMU!”

               Sssttt… Kwangmin menempelkan jari telunjuknya di bibir. Sepertinya aku bicara terlalu keras.

“ JB seperti apa menurutmu?”

“ Dia orang yang aneh.”

“Maaf yang kemarin. JB dengan keadaan seperti itu walaupun cincinnya berhasil di temukan belum tentu ingatannya bisa kembali. Tapi jiyeon tak bisa menerima itu. Jadi bukankah lebih baik jika mereka tak bertemu, Youngmin juga berpikir hal yang sama. Dengan cincin yang di jadikan patokan Jiyeon saat ini, dengan munculnya kamu yang bisa di ajak kerja sama dengannya, walaupun semangatnya terkadang menurun, tapi selama dia tidak menyerah dia bisa terlindungi. Alasanku bekerja di sekolah ini, karena aku berfikir ingin menjadi teman untuk Jiyeon. Kemudian aku ingin hal itu tak terulang kembali. Mata yang seperti tak ada kehidupan, aku tak ingin kembali ke masa itu. Seungho, maaf aku membebanimu. Malam ini datanglah, jiyeon pasti senang.”



- Ruang data-

               “ Tidak ada Seungho, sepi ya!” kata heechul

“ Ne. membosankan.” Jawab Jiyeon “ Tapi hari ini kami berbeda.”

“ Heechul memperhatikan Jiuyeon

“ Kenapa? Apa aku aneh?”

“ hahaha, apa kamu masih memikirkan pekan kebudayaan?”

“ Iya.”

“ Jadi karena itu kalian nggak bisa sama2. Jiyeon itu lucu ya!”

“ Kenapa? Soal menggendong tuan putri itu. Kau pikir memangnya nggak gugup?” wajah Jiyeon kembali memerah.

“ Kok kalau denganku kau nggak gugup?”

“ Karena bagiku, heechul itu kakak perempuan. Aku tak tahu musti gimana kalau ada Seungho”

“ Cowok di sekitar Jiyeon banayk sih!”

“ Mwo?”

“ Pertama si kembar.”

“ Mereka kan keluargaku.”

“ Lalu Eli.”

“ Dia itu oppa tempat bersandar.”

“ Kalau Yoseob?”

“ Yoseob, dia itu sepupu yang seperti teman,”

“ Kalau JB?”

“ seumur hidup, dia adalah orang yang sangat spesial.”

“ Kalai Seungho bagaimana?”

“ Orang yang suka ikut campur urusan orang lain, tertindas, dan terlalu hati2.”

“ Mungkin ya? Sebenarnya dia adalah dia, apa tidak ada yang berubah?”

“ Entahlah, Seungho memang berbeda dengan JB tapi dia juga berbeda dari yang lainnya, saat berada di dekatnya aku juga merasa nyaman.”







***





-JIYEON POV-





               Hari ini aku bermimpi hal yang sama lagi. Berlari.., pemandangan yang berlari. Pemandangan memotong disamping yang amat cepat. Aku pikir aku kembali dejavu.

Aku seperti melihat bunga sakura. Setiap mendaki tanjakan yang menuju ke sekolah, aku seperti tersadar. Seperti diingatkan sesuatu. Itu sunggauh ajaib. Tapi saat aku sadar, ini adalah musim panas dan tidak ada satupun bunga sakura. Apa mungkin itu adalh.. ingatanku?

Di depanku, terlintas sosok laki2 dengan rambut yang lembut terbelai angin. Nafasku serasa terhenti, terus mendaki tanjakanmenuju sekolah.

Laki2 berambut hitam yang menarik lenganku, dalam tebaran bunga sakura yang menari nari diterpa angin.

Waktu itu ada seseorang. Kami berlari menuruninya, aku tidak tahu itu lengan siapa, yang menarik tangannya.. Aku.





             “ Eh.. Seungho sakit?”

“ Iya, sejak semalam mata kananku terasa sakit.”

“ Aku akan mengantar Seungho ke rumah sakit, jadi dia tidak bisa sekolah.” Kata Kahi

“ semoga cepat sembuh ya!”



                Hari ini tidak ada Seungho jadi tidak bisa cerita soal mimpi. jadi aku terpaksa harus mengingat2 sendiri. Tapi saat aku berada di gerbang, walaupun pemandanagnnya sama seperti di mimpi tapi tidak aad bunga sakura. Kalau saja ada sakura bertebaran mungkin aku bisa mengingat sesuatu.

Sebenarnya aku nggak yakin sih, tapi kurasa itu saat aku pergi ke sekolah dan menyembunyikan cincin, aku bersama seseorang. Tapi aku lupa itu siapa.



“ Sedang apa kau.” Sapa Yoseob

“ Yoseob,.”

Aku mana bisa bilang kalau aku sepertinya sudah hampir mengingat soal cincin. Yoseob kan nggak suka kalau aku cerita soal JB.

Eh.. apa ini? Saat yoseob berbalik, aku merasa…

“ Kenapa?” tanay Yoseob

“ Ani.”

“ Tidak masuk kelas?”

Rambut hitam yang lembut dan melambai lambai, sebenarnya apa yang aku lupa?

-JIYEON POV END-





“ Aaahhh.. santainya..”

Tapi rasanya aneh kalau sendian di rumah, tidak ada aap2 yang bisa dikerjakan. Membosankan.

TING TONG

Siapa? Ah..sekarang siapapun boleh asalkan aku punya teman.

CKLAK

“ Hai..” sapa JB



BLAMM

“ Kenapa kamu tutup? Aku nggak boleh masuk ni?” teriak JB

               Di hari yang damai ini, kenapa orang ini meski muncul?

“ SEUNGHO BUKA!!!!”

            Aku tak punya pilihan lain.

“ Ada apa?”

“ Aku hanya datang untuk menyerahkan ini.”

“ Apa?”

“ No HP ku. Sudah ya! Dagh..”

            Cuma itu..

“ Kalau Cuma itu kan bisa lewat Kwangmin saem!”

“ Habis.. aku ingin memberikannya sendiri.”

“ Lalu bagaimana kau bisa tahu kalau aku di rumah.”

“ Aku dapat SMS dari Kwangmin, katanya ‘ Seungho tepar’ gitu.”

            Kwangmin…..kenapa lagi2 tak memberitahuku.

“ Lagipula kalau tidak ada Kwangmin aku tak bisa dengan mudah kesini, bukannya Jiyeon sering berkeliaran disini. Aku kan belum boleh bertemu dengannya karena aku belum bisa menepati janji.”

            Janji? Apa dia sudah ingat? Ini sejak kapan?

“ Kau sudah ingat?”

“ Belum, tapi aku tahu semuanya.”

“ Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

“ Aku boleh mengganggu sebentar?” kata JB

              Sekali lagi aku tak punya pilihan, aku membiarkan nya masuk, apa tindakanku ini salah?Aku tak pernh tahu, yang kutahu akuini terlalu ikut campur, dan terlalu penasaran.



            “ seungho, kau tahu susunan keluarga Jo?”

“ Tuan Jo, Nyonya Jo yang sekarang, istri ke-2, Kwangmin, lalu ada Yoseob anak istri ke-2 nya.” Jawabku



 


“ Benar, tapi masih ada juga Ri an. Istri yang pertama. Kesehatan wanita itu memang tidak begitu baik, setelah kwangmin menjadi anak angkatnya setahun kemudian dia meninggal. Tapi bagi Kwangmin, dia pernah bilang ‘sampai saat terakhirnya aku tak bisa membuatnya bahagia.’ Sampai saat inipun dia juga merasa seperti itu, dari situ kalau di pikir kenapa dia begitu menyayangi jiyeon, karena.. wajah, keadaan tubuh, juga tingkah lakunya, mirip dengan Jiyeon. Dia hanay ingin melindungi dan menyayanginya, agar dia selalu tertawa.”



“ Melindunginya? Sungguh luar biasa, apa orang itu berniat melakukannya seumur hidup?”



“ Eh, Seungho tahu Nana kan? Dulu waktu mau ujian masuk SMP, aku minta dia jadi guru privatku lho. Lalu waktu aku kuliah semester 5 aku tewas karena kecelakaan. Aku nggak sebegitu ingat sih, tapi satu yang kukatakan. Mungkin alasanku yang sebelumnya menolong Jiyeon, karena siapapun tak ingin kehilangan orang yang di sayangi karena kecelakaan kan? Akhirnya.. takdir bagus memihak pada kami, aku dan Jiyeon masih hidup. Seungho, tadi kamu tanya apa yang ingin kulakukan kan? Sebenarnya ada yang ingin aku lakukan. Sesuatu yang aku sendiripun bisa melakukannya. Walaupun hsilnya tidak 100 %.”



“ JB memang benar2 JB. Aku sering mendengar soal JB dari Jiyeon.”



“ Jiyeon ya, aku pernah bertemu dengannya sekali saat aku sakit. Saat memejamkan mata Cuma itu yang kuingat. Selebihnya….. TARA!! BUKU DIARY RAHASIA MULIKKU!. Semua tentangku sebelum kecelakaan terpapar habis!””



Mwo?? Dulu JB menulis diary?



“ Disini tertulis sejak SD, sepertinya aku tumbuh dengan sangat menarik. Jiyeon juga muncul. Aku berjanji padanya. Dan aku ingin memenuhi janji itu.”

“ Janji apa?”

“ Membuatkan buku untuknya. Buku yang mudah dibaca dan ..hangat.”



                 JB.. andaikan ingatan orang ini tak kembalipun dia akan tetap membuatkan buku untukmu. Hei Jiyeon kau pasti akan senang.





-Ruang data-



             “ Hei seungho, liburan musim dingin nanti kamu pulang ke rumah orang tuamu?” tanya Jiyeon

“ Iya.”

             Roly roly poly

             Ada SMS masuk

“ Seungho liburan nanti…”

“ YAA!” teriakku

“ Ada apa? Kok teriak? Kamu mencurigakan. kenapa panik begitu? Pengirimnya perempuan ya?”

“ Kalo iya memang kenapa?”

            Jiyeon tak melnjutkan malh berdiri mematung. Memangnya ada kalimatku yang salah ya? Sebenrnya itu tadi SMS dari JB. Isi SMS nya nanti saja kulihat. Sejak kedatangan JB hidupku bertambah repot, apalagi aku harus merahasiakannya dari Jiyeon. Sepertinya saat ini aku mulai terbiasa, mungkin kedengarannya aneh tapi JB adalah orang yang di sukai Jiyeon. Walaupun ingatan JB hanya bekisar saat dia umur 12 tahun tapi dia ingin tetap memenuhi janjinya pada Jiyeon. Aku jadi tergugah kalau Jiyeon mendengar ini, dia pasti akan sanagt senang.

Aku ingin mengatakannya tapi aku belum bisa sebelum cincinnya ditemukan. Aku ingin melakukan sesuatu.



- Kamar 205-



“ together itu apa?” itulah bunyi SMS JB



Aku tak mau kalah “ Apa, apanya?” kirim!



“ Apa, apanya apa?” balasan JB



Dia ngajak berantem ya?



“ Itu teka teki atau pertanyaan?’


‘ aku ingin tahu arti yang sebenarnya berdasarkan intuisimu! ^^



Akan aku jawab lain kali!



-Keesokan harinya, sekolah-



            Dia bilang intuisi, kalau aku sangkut pautkan dengan Jiyeon, benar tidak ya?

“ Jiyeon..” sapa Eli

“ Eli.”

“ Hari ini Suzy nggak masuk sekolah. Dia demam.”

“ Mwo? Parah nggak?”

“ Nggak, kalu ada waktu kalu bisa meneleponnya.”

“ Kalau Yoseob sehat nggak ya?” akhir2 ini dia sedikit menjaga jarak. Anak itu juga kan jarang bicara dengan orang lain, makanya aku jadi khawatir.”

“ Jiyeon selalu memikirkan orang lain ya?”

“ Ani..”

“ Kalian nggak masuk? Nanti telat lho!”

Eli berbalik dan tiba2 ada aneh dengan Jiyeon, saat Eli berbalik jiyeon… menangkap kepala Eli.

“ HEI APA YANG KAMU LAKUKAN?” teriakku

“ Nggak, habis.. soal cincin.. aduh apa ya.” Kata Jiyeon kebingungan.

“ Mau ke ruang klub sebentar?”

Akupun mengejak Jiyeon ke ruang data

“ Jiyeon bisakah kamu mengingat susunan kejadian yang kamu ingat soal cincin? Kenapa kamu berfikir bahwa ruang data adalah tempat pertama yang harus digeledah? Coba sekali lagi kamu ingat2.”



“ Hari itu..aku pergi ke apatment JB(kamar 205), lalu saat JB sedang asik berbicara di telepon aku mmbawa cincin itu pergi.”



“ Semudah itu?”



“ Itu digeletakkan begitu saja. Setelah itu terjadi seperti mimpi. aku datang kesini begitulah yang kuingat. Tampaknya ditempat kejadian kecelakaan itu Kwangmin oppa juga ada. Di dalam mobil ambulans yang tersisa di ingatanku bayangan yang menakutkan. Kecelakaan itu dan tubuh JB yang berlumuran darah. Lalu setelah aku menceritakan kronologi itu pada Kwangmin oppa, dia pergi kesini untuk mencarinya tapi cincin itu nggak ada. Rasanya aku menyembunyikan cincin itu disini, tapi yang jelas…”



   Dia akan menangis.. aku tak bisa membiarkannya

“ Siapapun pasti pernah berbuat salah. Jiyeon, kau sudah cukup mengintrospeksi diri. Bukankah kau sudah mati mtian mencari cincin itu? Sebaiknya sekarang lakuakn yang bisa kau lakukan!”



“ seungho.. berkata seperti JB..Seungho..cincinnya pasti ketemu kan?”

“ Ne.”

“ Terima kasih.”





TBC
 

THE STORY I DIDN'T KNOW (PART 6)



                  Musim panas yang amat panas. Ujian akhir semester yang bagi murid sangat lama hari ini akhirnya berakhir.



“ Huaahhh..akhirnya bebas.” Kataku sambil mengeliat

“ Seungho, bagaimana ujiannya?” tanya changdo

“ Ujian bhs. Inggris sangat sulit.” Jawabku

“ Hari ini aku menemukan orang mati lagi.” Kata Changdo sambil menunjuk Jiyeon “ Jiyeon, apa hari ini kamu sbegitu ga bisanya?”

“ hasilnya tidak parah, tapi sangat parah! Kalau aku mendapat nilai merah meski sudah kerja keras aku harus minta maaf berjuta juta kali pada ELI yang sudah mengajariku semalaman.”


















“ Tenang, oppa bukan orang yang terlalu memikirkan hal itu kok, karena …. Oppa adalah orang yang paling tampan.” Kata Suzy

“ TAK ADA HUBUNGANNYA!” Teriakku dan Changdo bersamaan

“ Penyakit Suzy kambuh deh.” Gerutu jiyeon

“ Tenang, oppa kan baik terhadapmu.”

              Tidak berubah, dasar kumpulan orang aneh. Tapi..sebenarnya ada satu hal yng masih aku pikirkan. Sejak semalam aku jadi aneh. Lebih tepatnya kalu berhadapan dengan Jiyeon. Apa itu disebabkan karena Jiyeon tinggal kelas? Sepertinya bukan

             Apakah karena yang menyelamatkan jiyeon dari kecelakaan itu adalah JB. karena itu tiap dia menceritakan tentang JB dia jadi kacau. Itu juga bukan. Kalau begitu apa ya?

             Bagaimana kalau mungkin aku menyukai cewek menyusahkan itu.

“ Seungho..kita ke klub yuk!”

“ HUWAA…”

“ Ga usah sekaget itu deh.” Gerutu Jiyeon

“ Kamu jangan muncul tiba2.”

“ Apa maksudmu? Sudahlah ayo kita ke klub”

            Bagaimana ini? Apa benar aku menyukai dia? Aaaarrgghhh…Tak seharusnya aku menyukai cewek yang mencintai cowok lain. Tapi JB bukan pacarnya jadi masih ada harapan kan? Benar juga. Mulai saat ini aku harus mengahiri pertanyaanku tentang JB atau cincin itu. Sejak malam itu, aku tak ingin membuatnya mengingat kenangan pahit itu lagi.

Gawat, kenapa aku jadi berfikir seperti ini? AAAARRGGHHH… tapi aku juga ingin menyakan cewek dalam foto itu.



“ Seungho, kenapa melamun?”

“ Jangan dekat2 denganku.” Jawabku sinis



-Ruang data-



                Kita akan membicarakan tentang isi liburan musim panas. Yang ingin memberi usul, silahkan angkat tangan.” Kata Kwangmin memimpin

“ Seongsangnim! Karena panas aku ingin makan es serut.” Kata heechul

“ Meski tidak ada hubungannya dengan isi rapat, tapi karena alasannya seperti itu, usul di terima.” Kawab kwangmin

“ tunggu dulu.. kenapa sunbae tidak duduk tenang saja di ruang OSIS. Kenapa ikut berkumpul di klub ini?” tanyaku sewot

“ Tidak ada undang2 kan yang melarangku untuk berada disini bukan?”

“ Aku ingin menginap bersama.” Kata Jiyeon tiba2

“ Menginap bersama, dengan kata lain memasak sendiri, menginap di sekolah. Siang dan malam bekerja untuk klub. Begitu kan artinya?” tanyaku

Jiyeon mengangguk

“ Lalu untuk apa?”

“ mencabut rumput.” Kata Jiyeon enteng

“ Usulan diterima.” Jawab Kwangmin

“ Horeee…” tetiak Jiyeon kegirangan

“ Aku juga mau ikut.”kata heechul

“ mana mungkin? Memangnya ada tujuan menginap untuk hal seperti itu?” protesku

“ aku akan membuat pengajuan ini kesekolah, kita masukkan ke dalam agenda kita.”

“ KALIAN INI SEHABIS UJIAN PIKIRANNYA JADI ANEH DEH!”

“ Sudahlah Seungho, kau terlalu banayak mengeluh” jawan Kwangmin

“ Memangnya Seugho punya usulan yang lebih bagus?” kata Jiyeon naik ke mejaku.












  Dengan posisi sedekat ini, deg..deg..jantungku berdebar-debar. Apalagi posisi ini membuat pandanganku langsung tertuju pada… (bayangin ndiri ya, kalau Jiyeon naik ke atas meja seungho dengan posisi seperti merangkak dan wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajah seungho)

“ Jiyeon… dadamu..kecil ya?”

“ Mwo!!! DASAR MESUM!!”

                 PLAK BUK PAK

“ Bukankah cewek itu paling sensitif kalau di bilang ga punya dada?” bisik Heechul

“ sebenarnya yang lebih kurang ajar itu kamu.” Jawabku menjauhi Jiyeon setelah mukaku babak belur

“ Kwangmin oppa..jangan ikutan ketawa!” bentak Jiyeon

“ hihihi..eh, Seungho sudah tahu tentang umur Jiyeon?” tanya Kwangmin

“ Sudah sih, tapi dia masih tak berubah.” Gerutu Jiyeon

“ Tapi, kau sadar tidak kalau kalau seungho jadi aneh?”

“ Apanya?”



                 Gawat. Tanpa sadar sepertinya tingkahku benar2 aneh. Aku tidak ingin orang sekelilingku tahu. Tapi aku tak bisa bersikap seperti biasanya. Menginap bersama pula. Kenapa ya?meski tidak ada hal yang menarik pada wajahnya tapi…

“ Seungho..”bisik Heechul

“ Apa?”

“ Krena kau akan marah,aku gak akan bilang.”

“ Sudah bilang saja!” bentakku

“ Kau sadar tidak kalau Jiyeon itu mirip dengan pacarmu dulu.” Bisik heechul





“ HEEEEEEEEE”

“ Segitu mengagetkannya ya?”

“ Orang yang ga punya dada seperti itu? Apanya yang mirip?”

“ Bukan bagian itu. Juga buka wajahnya. Tapi gaya bicaranya. Seenaknya dan terlampau ceria. Gimana ya? Uhm… tipe yang menyusahkan. Meski dia punya sisi yang tegar juga sih.”

Menyusahkan? Memang benar..

“ Kalian ngobrol apa sih?”tanya Jiyeon

“ Ngobrol tentang mantan pacar Seungho.” Jawan heechul cengengesan

“ Seungho, pernah punya pacar?” tanya Jiyeon dan Kwangmin bersamaan

“ Trus kapan, dan berapa mantanyya?” tanya Kwangmin penasaran

“ Sudah jangan bicara yang tidak2!” bentakku





-JIYEON POV-



          Pacar…

Aku memang sangat menyukai JB, tapi.. pacar..sepertinya aku belum pernah memikirkannya. Hanya dengan bersamanya aku sudah merasa senang.






JB itu sungguh istimewa, tidak ada yang bisa menggantikannya. Orang yang sangat berharga.
Tentu saja kedua oppaku juga berharga. ELI..meski aku seumuran dengannya tapi dia terlihat sangat dewasa. Heechul, dia itu pretty boy. Seungho…dia bisa menerima semua cerita tentang JB. Aku tak memiliki teman yang seperti dia.

Teman..




“DASAR BODOH! BUKA MATAMU LEBAR2!”


        Degg.

Dejavu.. aku mengalami dejavu? Suara itu..



-JIYEON POV ED-



             Ting tong..

Cklak..akupun membuka pintu. Jiyeon.. kenapa malam2 kesini? Dan wajahnya, sangat lesu.

“ seungho, kamu temanku kan?” tanya jiyeon lirih

“ Ne.”

             Kenapa dia bertanya seperti itu?

“ Aku..dulu mempunyai seorang teman. Tapi entah kenapa tiba2 dia jadi berubah. Mungkin sepertinya dia membenciku. Aku dari dulu hingga sekarang begitu fanatik terhadap JB. Aku selalu cerita tentang JB. Makanya anak itu akhirnya tidak tahan. Saat itu, aku merasa seperti ditinggalkan, benar2 sangat menyedihkan. Seungho, hari ini tingkahnya aneh sekali.aku takut suatu saat nanti seungho juga akan seperti itu.”

             Kenapa dia berfikir seperti itu?

“ aku bukan orang yang seperti itu. Justru aku ingin melepaskanmu dari bayang2 JB.” Kataku

“ Tapi seungho mengatakan kalau aku orang yang menyusahkan.”

“ Bodoh, kamu itu terlalu banyak berfikir.” Kataku sambil mejitak kepalanya.

Tangan yang kupegang, pundak yang kuraih, benar2 sangat kecil. Saat itu pun aku memutuskan tidak ingin melepaskan pandanganku darinya dan tidak ingin meninggalkannya. Mungkin karena ucapan Jiyeon, perasaanku jadi ringan. Semua yang kukatakan tadi sudah termasuk aku menyukai nya.



-Liburan musim panas-



                 Liburan musim panas, sungguh panas. Apalagi harus mencabut rumput

“ DI MUSIM YANG SEPERTI INI KENAPA BANYAK SEKALI RUMPUTNYA??”

“ Seungho terlalu banayk mengeluh.” Kata Jiyeon

“ Bukan begitu..lihat..kenapa rumputnya banyak sekali? Memangya orang yang bertugas mencabut rumput kemana?” protesku

“ justru karena itulah kita disini mencabut rumput.” Jawab Kwangmin

Hari ini adalah hari pertama kami mencabut rumput, kami di komandoi Kwangmin saem dan Nana saem. Yang berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah aku, Jiyeon, dan..

“ HEECHUL DIMANA?”

“ Kalau dia sih, tadi pergi bersama sama anak2 pendaki gunung untuk mencari serangga.” Jawan Jiyeon

“ SEUNGHO!!” triak Heechul

          Croottt… Heechul menyemprotkan air menggunakan slang ke mukaku.

“ Lho, Heechul, bukannya tadi pergi ke gunung? Wah ELI juga ada.” Kata Jiyeon

‘ Itu karena aku teringat ada kerjaan disini.” Jawab Heechul

“ Sunbae. Pembalasan”

           CROOOTTT… akupun membalas menyemprot air ke mukanya.

“ Awas kamu ya?”

“ Bukannya kamu yang mulai duluan?”

“ Yang bisa membalas seperti itu Cuma seungho.” Kata Eli

“ Nanti kalian flue lho.” Sahut jiyeon “ Eh, ngomong2 soal flue, bagaimana keadaan Suzy?”

“ semalam kondisinya memburuk.” Jawab ELI

“ Sayang ya? Padahal kalau dia sehat, dia bisa ikut.semoga dia cepat sembuh.” Kaya Jiyeon dan di balas senyuman oleh ELI

“ Wah, ternyata ketua OSIS juga bisa tersenyum.” Kataku sambil memeras kaosku yang basah kuyup

“ Bukankah kau juga begitu?” jawab Heechul sambil melakukan hal yang sama, melepas kaosnya dan memerasnya

“ itu karena semua orang membuatku marah.”

               Kalau dia berteman akrab dengan Suzy berarti dia juga kenal dengan dengan ELI dari dulu. Mungkin Eli juga tahu tentang cincin. Aargghhh tapi aku kan sudah memutuskan untuk tak menanyakan hal2 semacam itu. Tapi aku juga masih penasaran dengan cewek yang di foto itu. Malam ini aku ingin pergi ke perpustakaan lagi.

         “ KYAAA…..” teriak Jiyeon

“ ada apa?” tanyaku khawatir

“ Heechull hechull..tak punya dada.”





Gubrak!! Ya iyalah..dia kan cowok.

“ kalau aku punya dada besar bakal jadi masalah kan?” kata Heechul

“ Jangn merusak mimpiku! Justru tidak masalah kan? Kakak perempuan yang mempesona.”






“ Nggak dulu, nggak sekarang, klub penelitian memang tempat orang bodoh.” Gerutu Nana



-Malam hari-



              Seungho, temani aku jalan2 sebentar ya.” Ajak JIYEON

“ Jalan2? Apa tidak takut?” tanyaku

‘ Ani.. aku suka suasana sekolah di malam hari. Soalnya aku punya banyak sekali kenangan menyenangkan. Dulu itu ya Jb… ups.. aku cerita tentang JB ga apa2 kan?”

“ nggak usah pake nanya deh. Terusin ja.” Jawabku

“ Aku dulu sering bersama Kwangmin oppa dan yang lainnya menyelinap ke sekolah malam2. chaaya bulan sungguh terang dan indah, makanya aku sama sekali ga takut ama malam.”

“ Kamu gak takut karena bersama JB?”

               Jiyon tersenyum membuatku semakin sakit hati pada JB. Aarrgghhh menyebalkan, cepat ingat donk dan temukan cincin itu.

“ Mungkin memang tidak boleh ya, datang ke sekolah.” Kata Jiyeon tiba2

“ memangnya kenapa?”

“ ingatanku kabur, setelah kamar 205,kenapa aku terpikirkan tentang sekolah? Pada akhirnya ini tak menjelaskan apa2. kalau aku menyembunyikan cincin itu gampangnya disini kan? Kenapa aku lupa?”

 “ Lho, kalian ada disini?” tanya Nana “sudah waktunya tidur.”

“ Ne.. aku mau tidur dengan Nana unnie.” Kata Jiyeon “ Seungho sampai besok ya?”



            Ini kesempatanku untuk pergi ke perpustakaan. Kalau aku menyalahkan lampu nanti bisa ketahuan. Biarin gini aja deh, Cuma disinari cahaya bulan. Uhm..dimana ya?..album kelulusan... album kelulusan..Lim Jaebum.. Lim jaebum!!!, novel karangan Lim Jaebum?

          Cklak

“ Kamu memang hobi membaca di tempat gelap ya seungho!”

“ Kwangmin saem!’

“ Kalau kau kesini untuk mecari buku karangan JB sebaiknya kuusulkan untuk mencari buku yang berjudul ‘Jejak kaki’. JB menjadi novelis di usia 19 tahun. Tepat saat dia masuk rumah sakit bersama Jiyeon, dia bilang ingin menulis sesuatu, tapi dia tak menjelaskan itu apa. Kamu ingin tahu tentang JB?”

“ Tidak, aku hanya ingin tanya, siapa gadis di foto klub pelatihan di album kelulusan?”

“ namanya Kang Sora. Dia adik kembar Nana tapi beda sel telur. Dan dia adalah.. mantan tunangan JB.”



***



                Buku karangan JB judul ‘jejak kaki’. Dari hardcover novel ini aku tidak menyangka ternyata itu novel misteri yang banyak sekali intrik percintaannya. Bercerita tentang seorang laki2 yang sangat terluka dan sedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan.



- SEKOLAH AWAL SEMESTER 2-



                  “ Jiyeon..aku mau ke ke perpustakaan dulu, habis gitu baru ke klub. Kau mau ikut tidak?” tanyaku

“ Tidak.”

Akupun berjalan sendirian ke perpustakaan sambil membaca novel JB. Kalau JB apa yang akan dia lakukan pada Jiyeon?

“ Seungho..kebetulan sekali, tolong bawa ini ke ruang klub. Kau tak ada keperluan lain kan?” tanya Kwangmin saat kami berpapasan di koridor

“ Ani.” Jawabku dan menerima kotak yang di serahkan Kwangmin. Mengembalikan bukunya nanti saja deh

“ Kamu sudah baca ya?” tanya Kwangmin sambil melirik buku yang kubawa “ bagaimana pendapatmu?”

“ wanita yang paling disukai tokoh utama pada akhirnya menusuknya dan akhirnya tokoh utama mati. Alasannya kuat, dan meski ini menyedihkan tapi ini benar2 membuat berdebar2. Sagat menarik. Puisi pembuka dan isi novelnya, setelah selesai membaca dan membacanya ulang, sama sekali tak membuat bosan..” Jawabku

“ Hanya saja, kalu kau tahu bagaimana perasaan pengarangnya, itu lebih menyedihkan.”

Kata Kwangmin

“ Seongsangmin, anda di panggil kepala sekolah.” Kata seorang anak

“ Ne, sudah dulu ya seungho.”



               Namja yang penuh teka teki, Lim Jaebum. Aku jadi ingin bertemu dengannya. Aarrgghhh..kenapa aku memikirkannya lagi? Semua ini gara2 Kwangmin sialan. Sudahlah sekarang aku harus membawa ini ke ruang data.

Cklak, aku kaget saat membuka pintu ternyata ada seorang namja di dalam. Namja yang tak pernah ku kenal sebelumnya.






 Siapa dia? Warna rambutnya juga mencolok. Dia bukan pengurus OSIS kan?

“ Kamu siapa?” tanya namja itu

Kok dia malah tanya balik siapa aku? Namja yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kalau dia murid sekolah lain, seharusnya dia tak boleh masuk sini kan? Atau dia murid mungkin dia ingin masuk klub pelatihan.

“ Itu.. buku karangan JB.” Kata namja itu saat melihat buku yang ku bawa, dan itu sontak membuatku kaget.

            BLAMM..

“ Seungho!!” teriak Jiyeon sambil membuka pintu sembarangan “ Tahu nggak, tahu nggak, ELI mau mengajariku kisi2 untuk ujian.”



 “ Jiyeon..”

            Apa? Namja itu kenal jiyeon..dan kenapa ekspresi Jiyeon tiba2 berubah kaku seperti itu…



“ Kau lupa pada wajah sepupumu sendiri? Ada apa? Kenapa mematung?”



               Sepupu katanya? Apa dia adik tiri Kwangmin yang mengikuti program pertukaran pelajar di luar negeri?

“ Apa nggak ada kata2 kangen ni? Misalnya Tanya ‘apa kabarmu? Kamu sehat kan’”

“ Kamu nggak ingin di begitukan kan.” Akhirnya jiyeon menjawab

“ cincinnya sudah ketemu?”

“ belum” jawab jiyeon lirih “ tapi. Aku tak akn menyerah.”



           Jadi dia juga tahu tentang cincin itu? tapi kenapa ekspresi orang itu begitu dingin saat mendengar Jiyeon tak akan menyerah?

“ Yoseob.” Sapa Eli

“ Eli, kau juga disini ya?” jawab namja itu

Yoseob? Jadi benar dia sepupu Jiyeon. Dan lagi, dia dan Eli sunbae, mereka saling kenal. Yoseob juga tahu tentang cincin dan JB. Sebenarnya ada apa diantara mereka?

“ Seungho..kita keluar saja.” Kata Heechul “ soal mereka, kita ga ada sangkut pautnya.”

“ Jiyeon! Kenpa kau diam saja? Kau bersembunyi di belakang Eli ya?” kata Yoseob dingin



“ JIYEONIE!! Kita bahas soal bahasa Inggris bareng yuk!” kata Suzy yang tiba tiba masuk



             Ini lagi, ketika Suzy melihat Yoseob, kenapa ekspresinya juga berubah?



“ Ho, kamu sudah pulang ya? Apa2an tu warna kepalamu? Yang tumbuh diatas kepala itu warnanya hitam kan? Dasar manusia print2 nan.” Kata Suzy ketus






“ Berisik cewek bodoh! Kamu juga ngaca donk! Benda yang di kepalamu itu apa tidak terlalu kepanjangan? Jelek tahu!” jawab Yoseob tak kalh sinis

“Apa kamu bilang? Gimana kalau kamu ke dokter mata sana!”

“ Kalo ngomong dengan orang bodoh, bisa ketularan jadi bodoh.”



“ Ternyata hubungan mereka lebih buruk dari yang kudengar.” Bisik heechul “ Hubunga mereka sudah buruk sejak masih kanak2.”

        Kanak2? Mereka sudah saling kenal sejak Jiyeon masuk RS ya? Eh..Jiyeon..aku melihatnya menyelinap keluar. Aku harus mengejarnya, mungkin saat ini dia sedang kacau.

“ Seungho mau kemana?” tanya heechul

“ Jiyeon.!. Eli, Jiyeon kemana?” Tanya Yoseob

“ sudah pulang.” Jawab Eli

“ Bohong!”

“ Tunggu! Jangan2 kau akan menjahati Jiyeon lagi!” teriak Suzy

“ Kalau iya, memang kenapa?”

“Wah, Yoseob selamat datang.” Sapa Kwangmin tersenyum.

“ Kau tak usah berwajah seperti itu! aku ngerti kok, kau membuat Jiyeon meloloskan diri. Kalau kamu segitu menghawatirkannya, bukannya lebih baik kau ikat saja lehernya?”





           Aku memperhatikan JIyeon yang berjalan gontai. Entah kenapa aku jadi ga bisa ngomong. Jiyeon..dia berjalan mendekati kolam di samping gedung sekolah. Apa dia menjatuhkan cincinnya ke kolam?

“ Aku tak menjatuhka cincinnya ke kolam kok.” Kata jiyeon tiba2, sepertinya dia menyadari keberadaanku “ walau aku sudah mencarinya kemana mana, ke kamar 205, ke ruang klub tetap tidak ada.”

“bukannya kamu sendiri yang bilang nggak mau nyerah?”

Jiyeon menoleh ke arahku, dia tersenyum. Sepertinya semangatnya sudah kembali.

“ Yoseob, dulu ga seperti itu. waktu pertama kali bertemu dengannya, saat liburan musim dingin. Saat aku masih kelas 2 SD. Ajussi menikah lagi dengan ibu Yoseob, waktu itu dia datang kerumah untuk berkenalan. Ah..gawat! kalau mengingat saat itu aku bisa mimisan, habis manisnya itu lho..ga masuk akal. Dengan pembawaannya yang tenang dan lembut dia jadi pemalu dan susah berteman. Apa lagi dengan Kwangmin oppa, ditambah dia harus berpisah dengan teman2 lamanya karena harus pindah juga karena tiba2 harus menerima keluarga baru. Aku mengajaknya bicara, dan tanpa sadar hubungan kami sudah benar2 akrab, waktu aku masuk RS yang kelas 3 SD juga dia selalu menjengukku. Tapi waktu aku kecelakaan kelas 2 SMP, sejak saat itu hubungan kami jadi terasa canggung. Yoseob juga jadi jarang menengokku. Yoseob biasanya ramah dan selalu membuatku senang, makanya waktu aku memberitahu kalau aku tidak akan menyerah mencari cincin itu tiba tiba dia berkata :



“ JB! JB ! JB terus yang kamu pikirkan. Apa kalau bukan karena orang itu kamu nggak bisa apa2? Kamu sendiri kan tahu kenapa kamu kecelakaan. Kayak orang bodoh! Bukannya lebih baik hentikan saja dan buka matamu!”


          “Walaupun dia sudah bicara seperti itu..aku sama sekali nggak membencinya.dia selalu menentang semua yang kulakukan. Dia bilang ‘percuma’ soal ujian, lalu soal cincin. Juga soal aku menyukai JB. Walaupun begitu aku sama sekali nggak mau berfikir kalau itu percuma. Semua yang kulakukan pasti ada gunanya.”

“ Bukankah itu bagus” kataku “ hanya ditentang satu orang, jangan mengeluh donk!. Kenyataannya ada satu yang sudah jelas kan? Bahwa kamu berhasil dalam ujian masuk Sewon High School. Iya kan?”

        Tes.. air mata jiyeon mulai menetes.

 “ Aku ingin menjadi kuat. Seperti barusan, dia seakan berkata ‘ bukannya sudah tak bisa ditemukan?’ tapi aku harus terus mencarinya. Karena aku menginginkan kesempatan itu. cincin itu..adalah serpihan yang terakhir. Karena aku ingin ingatan JB kembali. Gara2 kecelakaan itu, JB hilang ingatan. Dan melupakan tunangannya.”



                                                                              ***





             Gara2 keributan kemarin aku lupa dimana menaruh buku itu. Tapi bukan gara2 kemunculan Yoseob sih, Jiyeon juga walaupun kelihatannya bisa menghindarinya tapi setiap bertemu dia seperti tidak bisa menolak. Dampaknya aku lebih tidak diuntungkan. Tidak di untungkan ? UWAA…kenapa disaat begini aku malah mikir begitu??

Kalau diingat2 hanya gara2 kepala terbentur bola reaksinya sampai berlebihan begitu. Segala tentang Jiyeon berkaitan dengan JB. Sampai begitu eratnya. Bagi Jiyeon, orang itu begitu berarti. Seperti sudah mendarah daging. Tidak ada ruang untuk memikirkan hal lainnya. Kemarin, akhirnya aku nggak bisa nanya hal lain lebih dari itu.

Lho.. kenapa denganku..aku kok jadi merasa seakan akan seperti buku itu.



Cinta

Yang bagaikan jejak kaki diatas pasir

Belum tentu berbalas



Punggung itu seperti menghalang perasaanku.

Selalu berjalan, selangkah sendirian.



Setiap aku mendekat, seperti hal nya pasir di tepi pantai, yang terhempas kembali ke pantai.

Yang tertinggal hanya jejak kaki.



Perasaanku padamu

Seperti halnya tepi laut.

Yang hanya bisa diam tanpa suara

Hanya tulisan yang menghilang




        Degg

        Aku menemukan Jiyeon di ruang data, membaca buku JB sambil berlinang air mata.

“ Jiyeon.”

“ ah..Seungho!” jawan Jiyeon kaget dan buru2 menghapus air matanya “ Aku nggak apa2 kok.”

“ Nggak apa2 kok mukanya gitu?”

“ Kamu kenapa kesini?”

“ Aku mau mengambil buku itu.”

“ Jadi kau yang meletakkannya disini? Seungho brengsek!” kata Jiyeon sambil melempar buku itu ke arahku “ Buku itu kelemahanku. Buku yang JB tulis, tentang perasaannya pada Sora. Penuh dengan perasaannya pada gadis itu.”

“ Sora itu tunangan JB?” ups..aku kelepasan “ Mian, aku sudah mendengar dari Kwangmin saem."

“ Kenapa jadinya seperti ini?”

           Air mata Jiyeon kembali mengalir





“ Oppa..benarkah JB sudah sadar?” tanyaku pada Kwangmin oppa

“ Jiyeon tenanglah. Kamu belum boleh turun dari rajang.”

“ aku mohon, pertemukan aku dengannya, aku ingin bertemu dengannya.”


“Sampai sekarangpun aku masih ingat wajah kwangmin oppa yang tampak kebingungan. Lalu akupun akhirnya tahu makna di balik kebingungan itu. Tidak pernah terpikirkan olehku hal itu akan terjadi”



“Kwangmin, dokter baru saja memeriksanya. Ah..jiyeon ..” kata nana kaget

“ Oh ada tamu ya” kata JB lemah

“ Ne.” jawan Nana

“ JB!”



 “ Oh..haha..kira2 ini apa hubungannya. Kalau dibilang teman, kalau dilihat2 umurnya sedikit lebih muda.” Kata JB

“ JB, ngomong apa?”

“ HAI, Kamu siapa?”




              “Aku masih ingat saat itu tanpa pikir panjang aku memikirkan hal yang bodoh. Ini adalah kompensasinya. Inilah sangsinya. Tepat sebelum kecelakaan Sora memberikan cincin miliknya padaku. Aku tidak tahu ada apa diantara mereka berdua. JB belum mengingat apapun. Tapi seandainya saja semua cincin terkumpul, keajaiban mungkin akan terjadi.”



          Aku tak tahan melihat Jiyeon seperti itu akupun memeluknya.

“ Ada atau tidak adanya yoseob, kalau kau sudah memutuskan tidak akan menyerah. Maka jangan menyerah. Sejak awal kau kan yang sering mengatakan itu?”

“ Seungho..kenapa kau memelukku?”

            Aku langsung melepaskan pelukanku

“ Mian, jangan berfikir macam2 ya! Hanya kalau melihatmu sedih aku jadi kacau.” Kataku



“ hahahahahaah” Jiyeon tertawa

“ JANGN KETAWA!”

“ Iya, mian . makasih ya! Setiap bersama Seungho aku selalu bisa bersemangat lagi. Makasih ya!” kata jiyeon kembali tersenyum



-KORIDOR-



         “ Yoseob.” Sapa Eli

“ Eli, ada apa?”

“ kau tak menemui Jiyeon lagi?” tanya Eli

“ Tidak. Sepertinya setiap istirahat dia selalu menempel dengan orang itu.” Jawab Yoseob

“ Orang itu, maksudnya seungho. Yoseob, sepertinya kamu terlalu menggencet dia berlebihan.”

“ memang kelihatan seperti itu ya?”

“ karena terlihat seperti itu makanya aku ngomong. Kalau seperti itu kasihan jiyeon ”

“ Yang kasihan itu aku! Sudah setahun berlalu dia tetap saja tak berubah. Memuakkan.” Gerutu Yoseob

“ Dia sudah lebih ceria kok.” Kata Eli

“ Wajah yang seperti ini apanya yang ceria?”


“ Dia Cuma melakukan hal yang percuma. Ach.. si JB itu kenapa tidak mati aja sih.” gerutu Yoseob

“ Putus asa nih?”

“cerewet!”

                                      ***







              HUAACHIIIHHH

“ Seungho flue?” Tanya Jiyeon

“ Nggak tahu. 2-3 hari ini badanku terasa dingin.” Jawabku

“ Hati2 lho, sebentar lagi kan ada pekan kebudayaan.” Kata Jiyeon khawatir

“ Iya. Kalau gitu, hari ini aku nggak usah ikut kegiatan klub, sampai besok ya.”

“ SEUNGHO KAMU NGGAK BOLEH PULANG!” teriak Jiyeon

“ Selamat tinggal!” akupun segera lari keluar, aku tahu jiyeon juga mengajarku

“ SEUNGHO BERHENTI. AKU DAPAT SMS DARI HEECHUL..KATANYA KAMU GAK BOLEH PULANG!” teriak jiyeon



                 Akhirnya.. inikah takdir yang tak terelakkan.

“ Heechul masih belum datang ya?” gerutu jiyeon.” Eh, kenapa Seungho ga punya HP?”

“ Bodoh! Memangnya aku ceroboh membeli barang gituan. Bisa2 aku di perbudak 24 jam full oleh 2 setan itu (maksudnya kakaknya)”

“ Oh..jadi itu alasannya.”

“ Jiyeon, aku ingin tanya sesuatu. Buku itu tentang perasaan yang sepihak kan?”

“ Begitulah. Buku itu ditulis saat mereka belum jadian. Mereka berdua mulai pacaran kira2 tepat saat aku bertemu dengan JB. Pokoknya waktuku memang nggak tepat. JB itu sejak pertama kali bertemu dengan Sora waktu SMP dia sudah menyukainya. Benar2 keadaan sepihak yang lama ya. Tapi Sora sendiri punya orang lain yang disukai. Makanya buku ‘Jejak Kaki’ penuh dengan perasaan yang sepihak, itu… menjadi titik lemahku.”

“ Mian.”

“ Nggak apa2 kok. Habis tadinya aku nggak bisa baca buku JB. Saat itu aku masih terlalu kecil jadi nggak bisa memahami ceritanya”





“ JB… Aku nggak ngerti ceritanya.” Rengek Jiyeon

“ Begini saja. Nanti aku buatkan buku Khusus untuk Jiyeon, buku yang mudah dimengerti. Tunggu ya!” Jawab JB tersenyum





“ Janji itu.. kapan akan terwujud ya?”

“ Jadi karena itu kamu berusaha mencari cincin itu.

‘ Ne.”

“ Maaf lama meunggu!” teriak Heechul tiba2

“ Selamat datang Heechul, syukurlah.” Sambut Jiyeon ceria

“ Kenapa bengong begitu seungho, ayo kita pergi.” Seret heechul

“ Tunggu, kita mau kemana?” tanyaku

“ Kemananya sudah diputuskan bukan. Tentu saja ruang klub!”







                    DOOORRR…

“ SAENGHIL CHUKAHAMNIDA SEUNGHO!!” teriak Suzy, Kwangmin, Jiyeon, Heechul dan Nana bersamaan

“ ta.. tapi ulang tahunku kan lusa.”

“ Daripada kasih kejutannya pada hari H, lebih menarik kalau sekarang kan?” Jiyeon cengengesan

“ Ini kue, buatan Youngmin. Kue yang penuh pesan2 sayang untuk Seungho.” Kata kwangmin

“ seungho, buka ini.” Kata Heechul sambil melempar bungkusan ke arahku

Apa ini? Akupun membukanya dan isinya .. HP.

“ Ayo kita fto2!” kata Jiyeon dan Heechul bersamaan “ Lalu kirim.”

“ Ini dari unniemu. Mereka berdua menghawatirkanmu. Mereka bilang kamu nggak pernah menghubungi rumah. Paling nggak sesekali kirim SMS lah pada mereka.” Jelas heechul

“ 3 hari sebelum hari ulang tahunmu, mereka mendatangai rumah Heechul lalu memberi ini. Kamu kaget ya?” kata jiyeon

“ Semuanya.. terima kasih.”

“ Ayo nyalain lilinnya!” kata Nana “ Lilinnya ada 16 kan?”

“ Seungho, tiup lilinnya dalam sekali tiupan ya!” Jiyeon tersenyum

          Roly roly poly..

Ada sms masuk



SEUNGHO,

SAENGHIL CHUKAHAMNIDA



Kahi & Eun Hye


THE STORY I DIDN'T KNOW (PART 5)








PIP PIP PIP

            Kuraih jam beker di meja samping ranjang. Aku ingin kembali tidur tapi mata ini sudah tak bisa terpejam. Sudah jam 10 ya. Setelah pertandingan bola kemarin, tubuhnya terasa remuk. Tapi..yang tertinggal di hatiku sekarang adalah perasaan yang bermakna.

            Tunggu! Apakah ini bukti bahwa aku sudah akrab dengan kelas bodoh itu? akupun sepertinya sudah teracuni Jiyeon deh. Aaarrggg…kenapa di hari libur aku masih harus memikirkannya!!!!



Roly roly roly poly roly roly poly.. (bunyi dering sms seungho)



Kami akan kesana membawa kiriman. Tunggu kami ya!



Dari Kahi dan Eun hyee



            DEEGG

Mereka akan datang.. 2 setan itu…

TING TONG

Kyaa… cepat sekali sampainya

            Ting tong…

Aku harus membuka, kalau di biarkan kelamaan di luar mereka bisa mengammuk!



            Cklak (membuka pintu)

“ Seunghoo.. main yuk! Setelah itu…”



BLAM!!(menutup pintu)

“ HOI!! BUKA!!!” teriak jiyeon sambil memaksa masuk

“ Jangan hari ini! Aku sedang sibuk!”

“ Apa maksudmu! Padahal aku sengaja menjenguk da membawakan makan siang untukmu.” Kata jiyeon memelas

            akupun membukakan pintu membiarkan joyeon masuk.

“ Buatan siapa?”

“ Buatanku!” jawab jiyeon ceria

“ PULANG!”

“Ani! Aku bohong kok, ini buatan youngmin oppa.”



“ Seungho, kamu teledor ya?” kata Eun Hye di ambang pintu “ kalau kau bermaksud pacaran di rumah, seharusnya aku menutup pintu.”

“ Seungho…RASAKAN INI!” kata Kahi sambil menukul seungho “ KAU MEMBAWA GADIS LAIN KE RUMAH!”

“ Nuna.. salah paham!”

“ Dia tidak berbuat macam2 padamu kan?” Tanya Eun hye

“ Tidak. Justru aku yang mengganggunya.” Jawab Jiyeon

“ wah.. kamu anak yang manis ya! Mau berkencan dengan unnie.” Tanya Eun Hye

“ JIYEON HATI2! DIA LESBI!!!”









            “Oh.. jadi kalian kakak Seungho.” Kata jiyeon

“ Perkenalkan, aku kakak sulungnya, Kahi.”

“ Aku kakak kedua Eun Hye”





“ Aku Park Jiyeon teman sekelasnya. Aku tinggal di apaertment sebelah. Aku datang untuk menjenguknya.” Jelas Jiyeon

“ Seungho, seharusnya aku bilang donk dari awal.” Kata Kahi seenaknya

“ BUKANNYA KALIAN YANG SEENAKNYA SALAH PAHAM!”

“Panggil kami nuna bodoh!” kata Kahi, lagi2 memukul Seungho

“ Langsung saja. Kenapa kalian kemari” tanyaku kesal

“ Apa bagus bertanya seperti itu? padahal kami sengaja kemari untuk memberikanmu kemeja dan T-shirt  baru.” Jawab Kahi

“ Gomawoo.”

            “ Haahh..aku lelah! Seungho buatkan aku teh.”

“ JANGAN MENYURUH ORANG SEENAKNYA!”

“ unie, aku punya bekal makan siang yang kubawa untuk Seungho. Kalian semua slahkan memakannya.” Kata Jiyeon ceria

“ Wahh… gomawoo. Ayo kau juga makan!” kata Eun hye sambil mebuka bekal

“ Kau tidak ikut makan?” Tanya Kahi pada jiyeon.

“ Dia tidak bisa makan, dia hanya bisa minum susu.”

“ JINJJA!” teriak Kahi dan Eun Hye bersamaan.

“ Ne, karena suatu sebab aku tak bisa makan, aku hanya bisa minum strowbery milk ini.” Jelas Jiyeon

“ Begitu ya? Uhm..Jiyeon…ngomong2, ceritakan tentang seungho di sekolah donk!” Tanya Eun Hye

“ Aku punya sesuatu yang bagus.”kata Jiyeon sambil menunjukkan evil smirk “ TARA!!VIDIO PERTANDINGAN BOLA SEWON HIGH SCHOOL!”





            “ KYAHAHAHAHAHA..dia mimisan!” tawa Eun Hye sambil melihat vidio

“ Jiyeon..” geramku

“ Tak apa2 kan, Kwangmin oppa sengaja membuat edisi special Seungho.”

“ Kemana saja Seungho pergi, dia selalu jadi yang teraniaya.” Kata eung Hye

“ Setelah ini, adegan Seungho bermain basket. Dia keren lho!”

            BZZZZTTT , Kahi mematikan video.

“ Seungho,belikan nuna ice cream.” Perintah Kahi

“ Bukankah tadi sudah minum teh.”

“ BELIKAN ICE CREAM!” Kahi memasang tampang mengerikan.

“ Aku mau rasa vanilla.” Kata Eun Hye “ kau mau rasa apa?”

“ Aku strowbery milk saja!”

“ Iya! Iya! Aku pergi!”







            “ Dia sudah pergi kan?” kata Kahi sambil mengamati dari jendela“ Nah, ayo kita lanjutkan lagi dengan santai.”

“ Kahi unnie, mian…”

“ Yang tadi ya!” kahi menyela omongan Jiyeon “ karena dia orangnya pemalu, mungkin dia tak ingin kesehariannya di sekolah di lihat kami.”

“ Oh, begitu ya?”

“ Jiyeon, Seungho masuk klub apa?” Tanya Kahi

“ Klub pelatihan.”

“ Bukan klub basket ya? Ah! Apa yang dia lakukan?” kata Kahi kaget

“ kenapa?” tanya JIYEON

“ Aku terkejut, Seungho..tertawa. itu benar2 hal yang langka.”

“ Bukankah, Kahi unnie juga jarang tertawa.” Sahut Eun Hye

 “ Jiyeon..apa kau sudah tahu tentang klub basket saat dia SMP?” tanya kahi

“ hanya sebatas yang aku lihat.”

“ aku yang menyuruhnya tinggal disini. Kurasa kau juga sudah tau kalau daya penglihatan mata kirinya lemah. Benda yang bisa dilihatnya perlahan lahan mengabur. Karena itulah, satu2nya hal yang disukainya yaitu basket kandaslah sudah. Waktu itu dia mengeluh pada kami, kenapa dia tidak bisa melakukan hal yang dia sukai..Tuhan memang tidak adil.”

“ Kahi unnie itu orangnya suka menghawatirkan orang.” Sahut eun Hye “ jiyeon, bagian Seungho tersenyum tlong putar ulang!”

“ Tidak ada hal yang paing indah selain dia main basket dan tersenyum”





            “ Aku pulang.”

“ seungho selamat datang.” Jawab Jiyeon, kahi, da eun Hye bersamaan.

“ baiklah, setelah makan es kita pulang.” Kata kahi

“ Aku ingin menginap!” kata Eun Hye merengek.

“PULANG!” bentakku “ Oh iya jiyeon.. kau tak ingin bertanya pada nuna, saat pertama aku pindah nuna lah yang memersihkan kamar ini, mungkin dia tahu tentang cincin JB.”

“ Cincin apa?” tanaya Eun Hye

“ Cincin cowok yang sederhana.” Jawab Jiyeon

“ Sepertinya tak ada, apa unnie melihatnya?” jawab Eun Hye

“ Tidak. Tidak ada barang seperti itu.”



***





-JIYEON POV-



            JB adalah orang yang istimewa bagiku, jika memikirkan orang itu.. hingga kini aku masih merasa terluka. Dan kadang kalanya, air mataku tak bisa berhenti.




-Ruang data-

“ baiklah, ayo kita kerja bakti!”

“ Hah?” jawab seungho.

“ Bukan hah, tapi bersih2 ruang data!”

“ KAMU ITU MENDADAK BERLEBIHAN TAHU!”

“ Kemarin aku sudah bilang kan, tempat aku menyembunyikan cincin itu, dalam ingatanku sebenarnya kemungkinan yang paling tinggi adalah di sini. Di ruang klub penelitian. Tapi aku tidak ingat betul dimana aku menyembunyikannya. Waktu aku mencarinya 3 tahun lalu aku tidak dapat menemukannya.”

            Dan kemungkinan petunjuk terakhir adalah kamar 205

“ Intinya, kenapa kamu menyembunyikannya?” tanya Seungho

“Mian, aku masih belum bisa mengatakannya. Aarrggghhh.. aku akan memeriksa tempat yang di curigai 100 kali!”

“ Kali ini mau mulai apa lagi?” tanay Kwangmin yang tiba2 masuk bersama Heechul

“ Kami sedang kerja bakti, bagus kan?” jawab jiyeon ceria

“ Di dalam sini? Tapi bagus juga.” Sahut Heechul tapi sebelumnya… Seungho buatkan kami teh!”

“ BUAT SENDIRI!”

“ K au ini bicara apa? Bukankah guru datang ke sekolah demi murid2.” KATA kwangmin mulai nglantur

“ ya, benar. Dan sebagai perwakilan dari murid, aku juga datang kesini untuk bekerja juga.” Tambah Heechul

“ DEMI SEKOLAH! DEMI SEMUA ORANG!” teriak Kwangmin dan Heechul bersamaan

“ Demi semua orang, YANG KALIAN KATAN ITU OMONG KOSONG!”

“ CEPAT BUATKAN!” teriak Heechul



            “ Kenapa kau bersih2?” tanya Kwangmin.

“ Aku bermaksud mencarinya dengan benar sekali lagi.”

“ seongsangnim, aku taruh teh nya disini!” kata Seungho meletakkan teh di atas meja

“ Kau tak membuatkan untuk Jiyeon?” tanya Heechul

“ Eh, kamu nggak mau kan?”

“ nggak!” jawabku

“ Trus, apa yang mau kamu bereskan dulu?” tanay Seungho

“ Aku ingin menata file.”

“ Mesranya..” celetuk Heechul

“ Apaya, Jiyeon kan sudah punya JB!” kata Seungho

“ JB?” tanya Heechul

“ Heechul..bukankah aku sudah menceritakannya?” sahut Kwangmin

“ Oh..maksudnya Lim Jae Bum ketua klub pelatihan itu ya? Yang suka aneh2.” Jawab Heechul

            “ Dia anggota OSIS yang mendirikan klub pelatihan ini kan? Lalu waktu natal dia bilang’ sekolah akn lebih indah kalu ada lampu natal’ lalu saat dia memasang lampu hias di pohon yang ada di halaman tengah .. dia jatuh dan kakinya patah.” Jelas Heechul

            Heh? Apa benar seperti itu? Aku memang sudah sering mendengar kalau JB itu aneh, tapi aku tak tahu kalau dia seaneh itu.

“ Memang, itu pekerjaan yang tidak masuk akal. Tapi…JANGAN MENGHINA SIFAT ORANG!” teriakku



-          Rumah-





            “ Oppa.. JB pasti sangat aneh ya?”

“ Iya.” Jawab Kwangmin

“ Kalau begitu. Bagaimana denganku?”

“ Hah?”

“ apa maksudnya hah? Apa benar aku juga aneh?”

“ Kau itu.. apa sih yang sebenarnya ingin kau katakan?” tanya Kwangmin

“ Tidak! Habis sudah 3 tahun sih sejak peristiwa itu..aku tak mendengar apa2 lagi tentang JB.”

“ Kau sudah lupa wajahnya?”

“ ANIYA!!!



            JB yang berada dalam hatiku, tak mungkin bisa hilang.



Ayo kita mulai dari hal yang menyenangkan!

 


Kalimat itu.. sudah mengubah duniaku. Orang itu memang istimewa,sangat istimewa. Aku..yang sangat ingin bertemu tapi tak bisa berada di sampingnya.



            Zzzzrrrssss…( anggep aja ini suara hujan, mian ya klo ngasal, abis aku ga tw gmn suara hujan.)

            Hujan. Aku mendekati jendela menatap nanar ke arah hujan.

Cuaca hari ini sama dengan waktu itu, hari yang cerah dan tiba2 turun hujan. JB datang membawa payung dan mengajak jalan2. kenangan itu membuatku tersenyum tapi juga menyakitkan.



            -JIYEON POV END-





-Keesokan harinya, perpustakaan-



            “ Seungho, merapikan buku2nya sudah selesai?” tanya Heechul “ Maaf ya, membuatmu membantuku.”

“ Kamu punya rasa bersalah juga ya?”

            PLETAK!! Heechul memukulku.

“ Hei, aku menemukan hal yang menarik.” Kata Heechul

“ Apa?”

“ Album kelulusan angkatan Kwangmin saem!” jawab Heechul cengengesan

“ Eh, yang di pojok kiri itu Kwangmin saem.” Kataku

“ Waahh..waktu masih muda, dia juga tampan ya?” kata Heechul kagum





“ Ini Nana saem. Manis ya Seungho!”


“ Lalu ini..’ kata Heechul “ Lim Jae Bum.”






Entah kenapa, Perasaan ku mengatakan aku telah melihat sesuatu yang seharusnya tak boleh dilihat.

Orang yang di sukai Jiyeon.. tak kusangka, dia sangat tampan! Berdasarkan apa yang diceritakan Jiyeon, bayanganku tentang wajahnya sama sekali tak ada yang mirip. Wajah setampan ini, dengan kepribadian seperti itu.. ternyat amanusia memang tak bisa di lihat hanya dari penampilan.

            Dia nomor satu bagi Jiyeon.. Ach..kenapa aku jadi ambil pusing?

Tidak! Tunggu! Rasa jengkel apa ini? Aaarrggghhh kenapa jiyeon selalu menceritakan tentang dia! Tentang cincin lah tentang apalah meski aku merasa tidak terpaksa mendengarnya, tapi..aku tetap saja merasa kesal. Apalagi setelah melihat wajahnya..

            “ cewek itu licik ya?”

“ Hah,seungho pernah dipermainkan cewek?” tanay Heechul

“ Tidak! Lupakanlah. Uhm..sunbae, ada fto2 klub pelatihan tidak?”

“ada.”

            JB, Kwangmin, dan NANA selalu bermain bersama. Mereka memang berteman baik sih, tapi.. siapa dia? Jiyeon tak pernah menceritakannya.











   “Keluarga Jiyeon itu rumit ya?” kata Heechul “ Sejak aku ikut klub pelatihan aku jadi dekat dengan Kwangmin saem. Dan aku juga mendengar bermacam macam cerita tentang anak itu.”

“ Benar, perhatian kakaknya juga sedikit berlebihan.” Sahutku

“ Kalau itu, bukankah itu bentuk kekhawatiran? Kalau saja dia tidak tinggal kelas dia satu angkatan denganku” kata Heechul yng sontak membuatku kaget

“ Tinggal kelas? Waeyo?”

“ waktu dia kelas 2 SMP, dia harus tinggal kelas karena kecelakaan. Karena kecelakan itu dia harus tinggal kelas selam setahun. “

            Aku hanya terpaku mendengar penjelasan heechul.

“ Seungho, jangan2 belum tahu ya? AAARRGGHH Jiyeon maafkan aku, sepertinya aku sudah membongkar rahasiamu!”

“ Sunbae..”                             

“ Aku tak tahu persisnya, tapi coba kau tanaykan sendiri padanya. Hanya saja itu bukan hal yang menyenangkan”





-Rumah JIYEON-



            TING TONG

            Cklak, Youngmin membuka pintu

 “ Ada perlu apa malam2 kesini?” sapanya dingin

“ Uhm.. any..mian.. tidak jadi saja deh.” Kataku kikuk, entah kenapa berbeda dengan kembarannya aku selalu merasa canggung jika berbicara dengan Youngmin

“ Lho, Seungho ada apa?” kata Jiyeon di belakang Kwangmin “ Oppa, kenpa Seungho tidak dipersilahkan masuk?”



“ Seungho, ada perlu apa?”

“ Uhmm. Anu aku mau pinjam kamus bahsa Inggris.”

            Meski tadi sudah ditanya ada perlu apa, tetap saja pertanyaanku tak terlontar.



 “ Urusanku sudah selesai, aku mau pulang.”

“ Kalau begitu.. YOUNGMIN OPPA AKU MAU MENGANTAR SEUNGHO!”

“MWOYA???”

“Hei apa yang kau lakukan, nanti aku bias dibunuh Youngmin!”

“ Ku, bukankah ada yang ingin kau tanyakn?” bisik Jiyeon lalu dia pun menyeretku keluar.



            “ Yee..akhirnya bebas juga, nanti kalau aku pulang pasti di marain youngmin oppa deh, apa aku tunggu Kwangmin oppa pulang saja ya?” Jiyeon mengoceh

“ Memangnya Kwangmin saem kemana?”

“ Dia pergi dengan Nana unnie.”

“ Jiyeon, bagaimana kaau bisa tahu ada yang ingin kutanyakan padamu?”

“ itu karena… AKU DAPET SMS DARI HEECHUL!”



Mian Jiyeon, aku kelepasan ngomong ama Seungho


“ jadi..sekarang karena kau sudah tahu kalau aku lebih tua darimu, apa kau akan memperbaki sikapmu?” kata Jiyeon sengan senyum menyebalkan

“ Siapa? Aku? Untuk apa aku bersikap baik pada orang bodoh?” jawabku

“ dasar!” kata Jiyeon sambil mencerucutkan bibirnya

“  Apa itu mengusikmu?” tanyaku

“ Sama sekali tidak.tapi waktu aku ketinggalan kelas setahun dan tetap menjadi kelas 2 SMP aku sangat sedih tapi sekaraang aku bersyukur bias berada di kelas itu.”

“ Maksudmu kelas idiot itu?”

“ Intinya, kalu beda umurnya Cuma setahun tak jadi masalah kan? Aku masih bisa berbaur. Coba kalau beda umurnya 10 tahun, kita pasti akan diperlakukan seperti anak2.”

            Ekspresi Jiyeon.. sejak kapan berubah seperti itu

“ tapi sepertinya aku memang terlalu kekanakan. Aku ini hanya anak kecil yang tak bisa berpikir panjang.” Kata Jiyeon dengan ekpresi putus asa yang kembali muncul. Aku tahu jika dia seperti ini pasti dia sedang memikirkan JB.



            “Jiyeon..boleh aku bertanya, kalau tidak mau menjawab, tidak apa apa kok.”

“ Ne, tanyakan saja.”

“ JB…Apa dia masih hidup?”

“ MWO?? KAU INI CARI MATI YA?” teriak Jiyeon sambil mencekikku “ Dia itu masih hidup dan segar bugar. Kalau dia sudah mati taka ad gunanya aku hidup!”

“ uhuk..uhuk..mian, habis kalau mendengar ceritamu, apalagi di tambah dia sakit2an, jadi kupikir dia sudah mati.”

“ Dia masih hidup, hanya saja aku masih belum bias bertemu denganya sampai aku menemukan cincin itu.”

            Ekspresi putus asa itu lagi.. aku tak suka..

“ Mian, aku bertanya yang tidak2.”








               “ Sudah mengantarnya sampai sini saja, gak apa2 kok. Sudah cepat pulang sana!”

Aku lupa, selain itu masih ada masalah cincin. Selain itu aku masih penasaran dengan kecelakaan itu. Apa itu ada hubungannya dengan cincin yang di sembunyikan Jiyeon? Harusnya saat ini Jiyeon duduk di kelas 2 SMA Karena kecelakaan dia harus mengulang saat kelas 2 SMP.



               “ Seungho itu baik ya?” kat Jiyeon tiba2 “ Mungkin rugi lho jadi orang baik, seperti JB.”

“ Jiyeon, apa maksudmu?”

“ sakura yang berbunga sangat lebat tinggal seminggu lagi ujian semester 1 kelas 2 SMP berakhir. Lihat! Lurusd di depan sana adalah tempat kecelakaan.” Kata Jiyeon sambil menunjuk kea rah jalan di depan apartmen “ sepertinya saat itu hokum karma sedang berlaku. Menyembunyikan cincin adlah hal terakhir yang bias kulakukan. Tapi karena kecelakaan itu aku ragu akan ingatanku di hari itu. Hari itu terlalu banyak hal yang terjadi.aku benar2 shock. Aku tak menyangka kalau JB akan melindungiku.dia melompat dan secepat kilat menyelamatkanku. A..a ku bukannya balas melindunginga,aku hanay memikirkan diriku sendiri, aku benar2 kekanakan. Aku tak bias member kebahagiaan pada tunangan JB. Mereka benar2 mesra. Padahal aku tahu kalau keinginanku tak akan terwujud.”





“ pikirku..kalau aku menghilangkan cincin itu..mungkin mereka akn bertengkar. Konyol, padahal itu bukanlah hal yang sesederhana itu.”

            Sudah cukup. Akupun memeluknya.

“ Tidak perlu diceritakan sekaligus.”

“ Menurutku Tuhan tidaklah adil.” Kata Jiyeon di tengah isakannya “ semua ini adalah kesalahanku, karena terlalu sedih aku tak ingin bertemu dengannya. Jadi aku ingin menemukan cincin itu. Seungho maaf.. bicraku sudah ngelantur.” Jiyeon melepaskan pelukanku

“ Nggak kok. Kalau mau cerita, ceritakan saja.”

“ Seungho, gomawoo.. untuk pembicaraan ini, biasanya aku tak punya keberanian untuk bias menceritakan tapi..aku bersyukur bias menceritakan ini pada Seungho.” Jiyeon tersenyum dalam tangisnya.








Untuk beberapa detik tadi…entah kenapa jantungngku terasa..berdebar debar.