Saturday, 2 June 2012

THE STORY I DIDN'T KNOW (PART 2)


Ting tong…
Jiyeonnie.. Apa maksudmu dengan ‘sesuatu yang menarik’?”tanyaku saat berada di depan apartmennya.
Aku punya rahasia sebenarnya.. Kwangmin oppa bukanlah sepupuku. Tapi kakak kandungku.”

CLAK (pintu di buka)
Selamat datang”
aku terperanjat melihat sosok yang membukakan pintu. Wajahnya mirip sekali dengan Kwangmin saem. Apakah mereka..
KEMBAR!


The story I did’t know part 2

        Apa? Kakak beradik? Kwangmin adalah kaka jiyeon dan bersaudara kembar? Jadi dia bukan sepupu Jiyeon, tapi kenapa nama marganya berbeda?
“ Apa kau pulang bersama Kwangmin?” tanya namja yang membukakan pintu “ kalau kau telp aku pasti akan menjemputmu.’
“ Ini ada alasannya!” jawab Jiyeon
       Namja itu melirik ke arahku
“ Ini siapa?”
“ dia Seungho, teman sekelasku. Dia tinggal di gedung apartment seberang. Uhm.. Oppa aku punya permintaan boleh ya?” tanya jiyeon manja “ aku ingin dia makan malam bersama kita.”
“ MWO!!”
“ Youngmin oppa..” Jiyeon memasang wajah memelas
“ Se..sering sering ya! Ja..jangan sungkan sungkan.”kata namja yang di panggil Youngmin.
          Aku bisa langsung mengtahuinya, dia sangat terpaksa mengucapkannya.
“ Youngmin, ayo kita siapkan makanan.” Kwangmin menarik Youngmin masuk.

“ Itu Youngmin oppa, kakak kembar Kwangmin oppa, sifatnya beda kan?hehe”kata jiyeon setelah bereka berdua menghilang
“ Nama marganya juga.” Sahutku
“ Kwangmin oppa memakai nama PARK KWANGMIN hanya sampai kelas 3 SMP, bersamaan dengan kelulusan SMP dia berganti nama menjadi JO KWANGMIN. Dia diangkat menjadi anak keluarga adik perempuan aboji.” Jiyeon menjelaskan “ Ajuma orangnya sangat baik, tapi tubuhnya lemah sehingga tidak bisa melahirkan. Setelah itu ajuma meninggal. Beebrapa tahun kemudian ajussi menikah lagi, istri ke-2 nya sudah punya anak namanya YOSEOB. Dia murid sekolah kita dan satu angkatan dengan kita lho. Dia mengambil jurusan Bahasa inggris dan sedang mengikuti pertukaran pelajar di luar negeri jadi tidak ada di sekolah. Meski hanya sekali akumejelaskan tapi kau mengerti kan seungho?”
“ Dengan kata lain kau punya 2 sepupu, yang 1 kakak kandungmu, yang satu tidak kamu kenal sama sekali?”
“ Ne, kurang lebih seperti itu.”
‘ Lalu, kenapa kau repot2 menjelaskannya padaku?” tanyaku dingin
“ Agar aku di persilahkan masuk kamar Seungho mungkin.”
              Ekspresi putus asa itu lagi..
              BRUKK.. Tiba-tiba jiyeon rubuh.
“ Jiyeonnie..gwanchana?” tanyaku khawatir
“ naneun gwanchana.” Jawab Jiyeon
“ Kau yakin?”
             Jiyeon tak menjawab
“ Jiyeon, Seungho, makanan sudah siap, cepat masuk!” teriak Kwangmin dari dalam
“ Seungho ayo masuk.” Kata Jiyeon sambil tersenyum
          Kenapa tiba-tiba dia rubuh? Walaupun dia bilang tidak apa2 entah kenapa aku merasa khawatir. Seperti firasat buruk.



          “ Oh..gegar otak ringan, tapi kalau Nana sudah bilang istirahat ya harus istirahat.” Kata youngmin sambil makan
“ Kalian menganal nana saem?” tanyaku penasaran
“ Nana saem itu teman 1 angkatan dengan Kwangmin oppa waktu SMA. Dia jiga sekolah di sewon high school lo.” Jiyeon menjelaskan dengan ceria “ Tapi aku juga tidak menyangka Kwangmin oppa akan jadi guru. Soalnya kalau bicara siapa, JB lebih…”
           Degg..
           Suasana tiba-tiba jadi hening. Kenapa suasana tiba- tiba tidak enak begini?”
“ seungho, bagaimana keadaan kamar itu?” tanya Kwangmin memecah keheningan “ Langit2 nya kalau hujan sering bocor kan?”
“ Ne.”
“ Air toiletnya gimana, sering macet?” tanya Kwangmin lagi
“ Kalau itu sih, aku sudah panggil tukang ledeng. Tapi bagaimana anda bisa tahu?” tanyaku balik
“ Karena itu dulu tempat tinggal temanku yang berkelakuan buruk.”
        Klinting..
“ maaf aku menjatuhkan sendok, aku akan mencucinya dulu.”
        Jiyeon..sejak kapan tatapannya jadi kosong begitu. Apa yang sebenarnya terjadi? Baiklah akuk mengerti, ini adalah hal yang tak perlu kuketahui.
“ Aku permisi dulu.” Kataku berpamitan “ Youngmin, masakanmu enak, terima kasih.”
“ seungho! Aku antar ya?” tanya Jiyeon tiba2
“Ga usah.”
“ Sampai pintu depan…saja..kok..”
         BRUKK
“ Jiyeon??”
        Kenapa dia rubuh lagi? Sejak kapan dia jadi sepucat ini?
“ JIYEON!!”
“ YOUNGMIN BUKA TOILETNYA!” TERIAK Kwangmin
“ Muntah saja, tidak apa2!” teriak Youngmin
          Si kembar yang terguncang, Jiyeon yang pucat pasi, lalu hubungan antara kamar 205 dan ciccin yang hilang.. Apa yang sebenarnya terjadi?

***

          “Jiyeon bagaimana?” tanya Youngmin saat Kwangmin keluar dari kamar jiyeon
“ setelah muntah, dia sudah tenang.”
“ Kwangmin..apa ini salahku? Seharusnya aku menyiapkan makanan yang mudah di cerna.”
“ Tidak. Dia sudah pucat sejak di seolah. Seungho kau kaget ya?” tanya Kwangmin
“ Ne”
“ Seungho, sekalian minta maaf, meski hanya cerita tapi tanyakanlah!”
           Aku mengerti apa maksud Kwangmin,akupun memasuki kamar Jiyeon. Hal baru lagi yang kulihat dari dirinya. Dia terkulai lemas. Ini pertama kali aku melihatnya seperti ini.
“ seungho mian.”kata Jiyeon lirih
“ Kamu sakit apa sih?”
“ Tubuhku tidak bisa menerima makanaan.”
Menolak makanan?
“ Itu terjadi saat aku kelas 3 SD. Karena Youngmin oppa sekolah di luar kota, jadi dia hidupsendiri dan kerja part time. Kwangmin oppa aku sudah ceritakan tadi, sejak di angkat anak oleh ajuma dia tinggal di rumah mereka. Orang tuaku, mereka bekerja siang dan malam. saat musimpanas kebetulan waktu itu Kwangmin oppa datang berkunjung aku roboh. Aku langsung di larikan ke Rumah Sakit. Semua keluargaku langsung datang. Aku sangat senang karena sudah lama keluargaku tidak berkumpul, tapi.. kebahagiaanku hanya sebentar.” Air mata Jiyeon mulai menggenang di pelupuk matanya.

“ wae?” tanyaku

“ Kenyataan bahwa aku merepotkan orang tuaku membuatku kembali stress. Tapi berkat adanya seseorang aku kembali seperti semula.”
“ seseorang?”
“ ne seseorang. Kalau saja orang itu tidak masuk RS saat itu, mungkin aku tidak akan kuat sperti sekarang.”

-FLASH BACK, JIYEON POV-

          Saat di Rumah sakit, aku tidak sengaja melihat Kwangmin oppa masuk ke kamar lain. Aku mengikutinya, saat aku mengintiip aku melihatnya bersama seseorang, tapi siapa dia?”

 







“ Hei! ada yeoja kecil.” Kata namja itu saat melihatku
“ Jiyeon, apa kau mengikutiku?” tanya Kwangmin oppa
“ Siapa dia?” tanya namja itu lagi
“ adikku.yang sering aku ceritakan.”
“ Salam kenal aku teman oppamu, namaku Lim Jae Bum, panggil saja aku JB.”

 


 
                   Dia adalah JB, pemilik cincin itu.
“ Heh! Jiyeon ga bisa makan ya? Aku juga lho.” Kata JB
“ Jinjja?”
“ Selain luka di usus, lambung kita juga dioperasi, dan kita bersahabat dengan infus. Kita sensitif sekali ya?” kata JB lagi
“ Itu karena gaya hidupmu yang buruk! Selalu saja minum alkohol.” Kwangmin mengomel
“ Sudah diam! Sekarang buatkan aku makanan!” perintah JB
“ Oppa membuat makanan?” tanyaku heran
“ Oppamu ini hebat lho.” Kata JB tersenyum
“ Setelah ajumma meninggal dan sebelum ajussi menikah lagi seluruh pekerjaan rumah tangga adalah tugasku.” Jelas Kwangmin
“ Aneh, aku tidak tahu.” Kataku
“ Jiyeon, kau mau aku ceritakan macam2 cerita tentang oppamu tidak?” tanya JB “ Karena hidup terpisah, ada banyak hal yang tidak kamu ketahui kan? Aku akan membagi yang ku tahu.”
            JB berkata seperti itu dan menceritakan macam2 cerita padaku. cerita saat2 membahagiakan di SMA, Cerita tentang mereka masuk klub pelatihan, setiap hari sangat meneynangkan. Hanya kehidupan yang di lalui dengan infus tidak berubah.
           Suatu siang aku menemukan JB tiba2 menghilang. Suster bilang dia kabur. Akupun mencarinya keliling Rumah Sakit dan akhirnya aku menemukannya di atap bersama Kwangmin oppa.
“ Kwangmin, belikan –itu- “ perintah JB
“ Itu?” maksudmu?” tanya Kwangmin bingung
“ –itu- 2 buah ya! Kalau tidak, aku akan menanamkan hal2 yang tidak benar pada adikmu!” ancam JB
“ Ne! tapi jangan macam2!” kata Kwangmin lalu meninggalkan kami.
“ Ngomong2, karena masuk RS liburan musim panasku jadi hancur.” Kata JB menggerutu
           Benar liburan musim panas ini membosankan, umma dan aboji sibuk kerja. Aku jadi tidak bisa kemana mana.
“ Aku ingin jalan-jalan, ingin pergi kepantai, ingin minum soju, aku benci suntikan, aku ingin keluar dari RS!” JB mengeluh
“ JB egois!”

“ Heh? Waeyo? Bukankah kita harus mengatakan apa yang ingin kita katakan. Kalau tidak, stress bisa menumpuk! Tapi kita tidak boleh berkata tanpa membaca situasi sekeliling. Karena tidak ada yang mendengar, jadi tidak apa apa.” Kata JB cengengesan
“ Tapi aku mendengar”
“ Kalau gitu, ini rahasia.” Kata JB sambil menegrling nakal
Rahasia ya? Lucu sekali. Ini kan bukan hal penting yang harus dirahasiakan.
“ Jiyeon bagaimana dengan cerita2 ku?”
“ Kedengarannya sangat menyengkan.” Jawabku ceria
“ Sebenarnya,itu kurang lebih seperti hal yang menyedihkan. Tapi walaupun begitu setiapmengingatnya aku selalu ingin tertawa, kau tahu kenapa?”
  Aku menggelengnkan kepalasebagai jawaban

“ Karena pada saat hal yang menyedihkan teratasi kita akan dapat menemukan kebahagiaan baru lagi.                  
               Hanya itu bukanlah sesuatu yang bisa di atasai hanya dengan bersabar. Jiyeon..mulai sekarang hal yang membahagiakan pasti akan bertambah,jadi kalau kau capek,bilang saja capek. Saat kau sedih, bukankah lebih baik menangis saja?”
Pada saat sedih…
“ JB, di rumah aku sama sekali tidak bahagia. Di rumah tidak ada siap siapa. Aku tidak suka kesepian. Jangan biarkan aku sendirian.”
               Air mataku mulai menetes. Air mata yang selama ini selalu aku tahan agar tak membuat keluargaku khawatir akhirnya meleleh juga. Dan semua berkat JB, dia memeluk diriku yang tengah menangis keras. Entah kenapa perasaanku sedikit lega.
“ hei JB! Jangn tersenyum sambil membuat adik orang menangis.” Kata Kwangmin oppa, entah sejak kapan dia berdiri disitu, akupun segera menghapus air mataku.
“ Jiyeon, kau suka strowberi kan? Ini!” kata JB sambil menyodorkan strowbery milk yang di bawa Kwangmin oppa.
“ ini pemulih keceriaan. Mulai sekarang ayo kita mulai dari hal yang kita sukai!” kata Jb sambil tersenyum.

-FLASH BACK END, JIYEON POV END-

              “ Karna itulah aku jadi jatuh cinta padanya.”
“ Jadi begitu ceritanya. Jadi, jiwa Jiyeon yang ‘ berfikirlah tentang hal yang menyenangkan’ itu berasal dari JB?” tanyaku
“ Ne. begitulah. Seungho..gomawo sudah mau mendengar ceritaku.”

-KEESOKAN PAGINYA-

           Pip Pip Pip
Kumatikan alarm jam bekerku. Sudah jam 7. semalam. Aku tak bisa tidur, meski ingin tidur., tapi hal yang tadi malam masih terus berputar putar di kepalaku. Arrgghhh..kenapa aku harus memikirkan hal itu..
Aku pun segera bersiap2 pergi ke sekolah, tapi waktu aku keluar…

“ Seungho kita berangkat bareng yuk!” sapa jiyeon dengan wajah ceria

              Aku tidak bisa tidur semalaman, kenapa si biang keladinya bisa segar begini?
Jiyeon..
PLETAK!
“ Apa apaan sih, kenapa kau tiba2 memukulku?” Jiyeon protes
“ Apa kau benar2 orang yang semalam sakit?” bentakku kesal
“ Aku tidak sakit! Aku hanya kurang nafsu makan.” Jawab Jiyeon dengan muka bego nya
“ Tapi kenapa pingsan?”
“ Kan kemarin aku sudah bilang, setelah aku muntah aku jadi segar.”
“ Meski kamu bilang gitu tetaplah…”
“ mungkin karena dari mulutku meluncur cerita tentang JB mungkin itu juga yang membuatku jadi segar.”
                Aku masih tidak mengerti. Jb mantan penghuni kamar 205 yang sekarang kutempati, dia teman akrab Kwangmin,dan bagi Jiyeon dia orang yang sangat berharga. Karena menghilangkan cincin yang berharga milik orang itu, dia mati matian mencarinya kesana kemari. Selain itu tubuhnya menolak makaanan. Dan sifatnya nekat. Hanya satu yang bisa kukatakan, bagaimana bisa di situasi yang seperti ini dia tetap bisa menghadap ke depan? Pasti ada kenangan yang menyenangkan sebelumnya.
“ Jiyeon, aku ingin tanya sesuatu.”
“ Ne”
“ ‘JB’ dan ‘cincin’ yang kau cari itu apa hubungannya?”
            Jiyeon tak menjawab. Hanya menatapku nanar. Mungkin itu sama dengan aku yang tidak bisa bergerak saat di lapangan. ‘JB’ dan ‘cincin’ itu beban berat di hati Jiyeon dan juga..berarti bagi Jiyeon. Itu adalah kenangan yang berharga.
“ Itu..tinggal sedikit lagi..tidak, stelah cincin itu di temukan kalau semua sudah bisa diatasai aku pasti akan jelaskan. Tapi mian, untuk sekarang aku belum bisa mengatakannya.” Jawab Jiyeon lirih
“ Kamu boleh datang kok. Meski tidak bisa hari ini, cincin itu..atau apapun itu kau boleh mencarinya sesukamu. Aku bukan ingin tahu rahasiamu lho, tapi wajah murung itu bukanlah dirimu!”
“ seungho! Benarkah?” kata jiyeon tak percaya.
“ Seungho, gomawo!” Jiyeon memelukku kegirangan.
“Oppa dengar deh!” Kata Jiyeon saat melihat Kwangmin keluar dari apartment.
“ Oppa sudah dengar. Syukurlah.” Kata Kwangmin. “ Mian ya seungho.”
           DEGG..
          Kenapa ekspresi Kwangmin seperti itu…


-RUANG DATA-

              “ Syukurlah kalau dia sudah di perbolehkan masuk kamar itu.” Kata Nana
“ Mungkin itu bukanlah hal yang bagus.” Jawab Kwangmin
“ wae?”
“ Itu justru buruk. Sikap seungho yang menolak dengan kekakuannya mungkin malah merupakan kebahagiaan bagi Jiyeon. Kalau cincin itu tidak ditemukan.. apa yang akan terjadi?”



                                                                                                      TBC






THE STORY I DIDN'T KNOW (PART 1)




Sejak hari dimana aku tahu bahwa keajaiban itu tidak ada.
Hanya akulah yang bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak akan menyerah.

Karna aku percaya bahwa keajaiban akan muncul.


The story I didn’t know
(part 1)


“ TIDAAKKK!!!” teriak ku.
“ Ayolah, kumohon ijinkan aku masuk ke kamarmu!”
“ Kubilang Tidak ya tidak. Kenapa aku harus menunjukkan kamarku pada orang asing?” bentak ku kesal
“ Aku ini bukan orang asing, aku ini Park Jiyeon, teman sekelasmu! Ayolah Seungho kumohon sekali saja” kata Jiyeon memelas.
Anak ini benar-benar. Apa yang ada dipikirannya? Masuk kamar namja, apa dia sinting? Aku benar2 kesal. Ah..lihatlah sekarang semua orang jadi menertawakan kami.
“apa yang ada di otakmu heh, masuk ke kamar namja? Semua orang bisa berfikir macam2!” bentakku
“ Aku tak peduli kok, meski nanti beredar gossip yang aneh2.” Jawab Jiyeon ngotot
“ TAPI AKU YANG PEDULI!! JANGAN BICARA DENGANKU LAGI!” bentakku kesal, kesabaranku benar2 sudah pada batasnya.
TUK
Sebuah bolpoin menghantam kepalaku.
“ SIAPA YANG MELEMPAR INI!” teriakku, tpi tak ada jawaban, seisi kelas hanya diam, dan mereka sudah berada di kursinya masing2. Aneh, bukannya tadi masih ramai. Firasatku mulai tidak enak, akupun melihat ke depan. Kwangmin saem sudah bersandar dipintu sambil mendekap tangannya di dada.
“ Sudah selesai?” Tanya Kwangmin sinis
Aku dan Jiyeon saling berpandangan.
“ Kalau sudah, kembali ke kursi kalian, kita mulai pelajaran.”


-JAM ISTIRAHAT , RUANG DATA-

“ Oppa, apa menurutmu Seungho marah padaku?” tanyaku
TUK. Sebuah bolpoin memukul kepalaku.
“ Sudah kubilang, jika di sekolah paggil aku seongsangnim!” kata Kwangmin
“ nae SEONGSANGNIM.” Kataku menekankan “ tapi disini kan tidak ada siapa2 jadi boleh donk aku memanggilmu oppa.”
“ Terserah kau saja.” Kata Kwangmin sambil memakan bekal ku.
Ini adalah kegiatan rutinku, setiap jam istirahat, Aku selalu pergi ke ruang data. Aku suka tempat ini karena tidak ada yang datang kesini. Jadi aku bisa mengobrol bebas dengan Kwangmin oppa. Jangan berfikir macam2, kami tidak pacaran, Kwangmin oppa itu sepupuku! Dan semua orang disini tahu itu.
“ Oppa, menurutmu apa sih sisi burukku?”
“ hm.. semuanya.”
Heh, apa maksudnya semuanya?
“ Jiyeon, oppa mengerti perasaanmu yang ingin menemukan cincin yang kau hilangkan, tapi terus terang kalau kau tetap seperti ini kau tidak akan bisa melangkah ke depan. Untuk apa sih sampai sekarang kau tidak menyerah saja? Tentu bukan ingin menghancurkan kemungkinan itu kan?”
“ mian.” Kataku lirih. Aku benar2 tak suka jika oppa membahas masalah ini.
Kwangmin oppa memperhatikanku yang mash terdiam, mungkin dia tahu kalau aku merasa tidak nyaman dengan statement nya
“ Aku tak tahu alasan Seungho sekolah disini, sepertinya kota asalnya transportasinya buruk.” Kata Kwangmin oppa mengalihkan suasana “ Wah, dia bisa basket rupanya.”
Kwangmin oppa kembali membaca data Seungho lagi. Aku melihat ekspresi Kwangmin oppa tiba2 berubah.
“ Oppa ada apa?” tanyaku khawatir
“ kenapa?” Tanya Kwangmin balik
“ Kenapa ekpresi oppa tiba2 begini?” kataku sambil menirukan ekspresi terkejut kwangmin oppa
“ Tidak apa2. yaahh.. padahal wajahnya tampan tapi sayang kau selalu berkeliaran di sekitarnya jadi bisa menatapnya tinggal khayalan.” Kata Kwangmin oppa,
“ Oppa caramu mengalihkan pembicaraan benar2 payah.” Kataku sambil bersungut,
Dia tak menjawab hanya tersenyum,
“ Ya sudah, aku kembali ke kelas saja.” Kataku sambil memngambil kotak bekalku, tapi jujur aku masih penasaran kenapa ekspresi Kwangmin oppa bisa tiba2 berubah.

***

Ah.. rasanya waktuku bernafas hanya saat jam istirahat makan siang. Jiyeon biasanya pergi ke ruang data bersama Kwangmin saem. Orang2 bilang mereka sepupu, pantas saja aku benci ke duanya.
“ sepertinya Seungho belum melihat2 ruang klub sekolah ya?” Tanya Ho Chang Do “ Memang mau masuk klub apa?”
“ Aku tidak masuk klub.” Jawabku enteng
“ Apa kau tidak tahu, sekolah ini kan mewajibkan setiap muridnya untuk masuk klub.” Balas chang do
“ MWOYA??”
Bagaimana ini, tujuanku sekolah disini agar aku tak perlu masuk klub, lalu untuk apa aku kesini?
“ Hei ada tidak klub yang tidak perlu bertanding dengan orang lain?” tanyaku
“ Ada sih, seperti OSIS?”
   Dasar bodoh, OSIS kan bukan klub
 
“ Munkin ada, namanya klub penelitian makhluk hidup, tapi daripada di sebut klub penelitian bisa di bilang itu adalah klub pecinta serangga.” Jelas Chang Do.
Penelitihan makhluk hidup, apa2 an itu. Sekolah ini juga, kenapa harus memaksa muridnya masuk klub.
“ SEUNGHO AWAS!!”
Tiba tiba aku melihat sebuah bola basket terbang ke arahku. HUP aku berhasil menangkapnya.
“ Mian.” Kata seorang namja yang mengambil bola.
Aku hanya diam
“ Wah, seungho keren..” teriak seorang yeoja, aku mengenali suara itu, Jiyeon
“ Kau mau masuk klub basket ya? Benar juga, di SMP Seungho juga ikut klub basket kan?”
DEG.. Bagaimana dia bisa tahu?
“ Bukan urusanmu.” Kataku dingin “ aku mau pulang.”
“ Apa kau mengajakku?” kata jiyeon dengan wajah innocent nya.
Pletak!! Aku menjitak kepalanya.
“ Seungho sakit!” protesnya. Tapi aku tak peduli, kuambil tasku dan akupun berjalan pulang, aku tahu dia mengikutiku di belakang.
“ Seungho orangnya cepat marah ya?” kata jiyeon saat jaraknya sudah dekat denganku
“ Itu karena ada yang membuatku marah.” Kataku sinis.
dia terkekeh, apa2 an ini, memangnya ada yang lucu?
“Kalau aku tidak tenang, oppa selalu menegurku. Uhm..yang ku maksud oppa tadi itu Kwangmin saem.”
“ Jiyeonnie, katanya kalian saudara sepupu ya?”
“Ya begitulah. Akhir2 ini dia sering menegurku, katanya aku tidak boleh terburu buru, katanay aku harus memahami’nya’ dulu.”
Aku mengerti yang dia maksud ‘nya’ adalah aku.
“ tapi suatu saat nanti kau akn menyerah kan?” tanyaku sekenanya
“ Aku tidak akan menyerah.”
“ Kau ini.. sudahah.” Dengusku kesal.
“ Kalau aku menyerah, hanya penyesalan dan kepahitan yang tersisa.”
Aku menatapnya, ekspresinya tiba2 berubah, selama ini aku hanya melihat Jiyeon seperti anak bodoh yang terlampau ceria, tapi hari ini berbeda, dia tampak…-hampa-

“ kenapa Seungho selalu menolak aku masuk kamarmu?”
aku hanya diam, tak sanggup melihat ekspresi itu
WUSHHH…(Tiba tiba angin bertiup kencang)
. Gawat mataku kemasukan debu
“ seungho gwanchana?” Tanya jiyeon
“ JANGN PEDULIKAN AKU!” bentakku. Akupun berjalan cepat menjauhinya.
“ TAPI SEUNGHO..”
Aku tak memperdulikan teriakannya dan terus berjalan
DOENG!!!
“ Didepanmu, ada tiang listrik.” Kata jiyeon sebelum tawanya meledak.
“ kenapa kau tak bilang dari tadi hah?” dengusku kesal
“ hahaha, habis kau tidak memperdulikanku sih..hahaha..kau tak bisa melihat ya?”
aku tak menjawab, aku hanya mengucek mata kananku
“ Oh, matamu kemasukan sampah ya?” Tanya jiyeon
“ Ini mata yang bisa melihat.”
“ Oh.. kalau begitu…” jiyeon tak melanjutkan kata-katanya, sebaliknya dia menunjukkan ekspresi terkejut. Mungkin dia sudah tahu.
“ Mata kiriku daya penglihatannya melemah dengan aneh, dan sekarang hanya bisa mengenali cahaya. Meski tak mengganggu kehidupanku tapi indra pendekteksi jarak jadi kacau.” Entah kenapa aku jadi cerita padanya
“ Seungho, kalau mau cerita, cerita saja. Aku akan dengarkan.” Kata jiyeon. Kali ini ekspresinya beda lagi, terlihat –dewasa-
“ Waktu angkatanku karena peminatnya sedikit klub basket akan di bubarkan. Makanya waktu pertandingan musim panas waktu kelas 3 SMP bagaimanapun aku ingin menang. Tapi..kita ketinggalan 1 nilai dari tim lawan, waktu tinggal 10 detik, bola yang diberikan teman2..kupikir sudah kutangkap..padahal tinggal sedikit lagi.”
Aku tak bisa melupakannya bunyi peluit tanda pertandingan usai. Dalam hening semua orang menatapku dengan pandangan mengeluh. Kenapa semua orang menyalahkanku?
“ Walau mataku bukan alasan tepat untuk menyerah. Tapi aku tak mau merasakn rasa itu lagi. Untuk melupakan semua itu aku datang kesini seorang diri. Karena aku sendirian kenangan itu tak bisa hilang.”
“ Begitu ya, sekarang aku mengerti.” Jiyeon berhenti sejenak “ seandainya semua menjadi hilang mungkin sekarang kita jadi bahagia. Tapi.. saat di depan kita ada hal yang sama lagi, kita akan mengulang hal yang sama. Aku tidak suka itu.”
Ekspresi itu lagi
“ Jiyeonnie.”
“ Aku hanya ingin memastikan bahwa itu ada di kamarmu. Soalnya aku tidak menemukan di manapun, petunjuknya hanya tinggal di situ. Sebelum kau menghuninya, dulu temanku tinggal disitu. Aku menghilangkan barang berharga miliknya. Sebuah cincin yang berharga maaf ya, tapi aku tak akan menyerah.”
“ jiyeonnie..”
PLETAK aku menjitak kepalanya
“ Kamu itu ya! Kalau alasannya seperti itu, bilang kek dari dulu.”
“ aduh.. jangan pukul aku donk. Sakit tahu!” Jiyeon mengusap kepalanya, kali ini ekspresinya kembali seperti biasa- orang bodoh -
“ Dasar. Aku akan memikirkannya.” Kataku sambil tersenyum
“ Seungho.. kau tersenyum? Apa ini artinya aku boleh masuk kamarmu?” kata jiyeon dengan senyum mengembang di wajahnya
“ Sudah kubilang, aku akan memikirkannya dulu!” kataku sewot.
“ Seungho ganteng deh!” kata jiyeon sambil gelayutan di lenganku
Aku memperhatikannya lagi, ekspresi yang kembali ceria. Semakin mengenalnya aku merasakn sesuatu yang berbeda. Aku tidak tahu itu apa. Mungkin sebuah rasa penasaran. Ada sesuatu dalam dirinya yang sulit dimengerti. Sesuatu yang berubah ubah, benar2 membuatku penasaran untuk lebih mengenalnya.

***

Aku baru membuka jendela kamarku ketika sebuah teriakan memanggilku dari gedung aparment sebelah gedung aparment ku.
“ SEUNGHO!! Kita berangkat bareng yuk!” triak jiyeon cengengesan
“ Dalam 2 menit, cepat turun kebawah!” tambah kwangmin
Mereka ini.. apa mereka benar2 bodoh. Jarak antara gedung kita kan hanya 5 meter kenapa mereka teriak sekeras itu? aku bukannya menghiraukan mereka, tapi karena sekarang sudah jam 7 akupun turun, hanya karena aku tak mau telat ke sekolah.
“ kalian ini, kenapa 2 orang saudara sepupu bisa tinggal dalam 1 atap? Bukankah itu bisa dikira kalian tinggal berdua?”
“ Kami tidak berdua, ada kakak jiyeon juga kok, jadi kita tinggal bertiga.” Kata Kwangmin dengan gaya santainya.
“ Aku disini bukan karena aku senang tinggal disini tapi karna aku mau tinggal di kamar 205 tempat Seungho tinggal.” Kata jiyeon sambil merengut.
Masalah itu lagi.
“ Jiyeon, apa kau mau naik mobil?” Tanya Kwangmin
“ Tidak, aku mau jalan kaki bareng Seungho. Sambil mengenang banyak hal, karena aku ingin segera menemukan cincin itu.”
Cincin itu.. apa itu begitu penting? Orang yang dulu tinggal di kamar 205 adalah teman Jiyeon. Jiyeon lupa dimana dia menghilangkan cincin berharga milik orang itu, sebenarnya ada apa di balik semua ini? Aku semakin penasaran apa yang membuat Jiyeon merasa terikat dan tidak ingin menyerah? Bagaimana dia bisa menghilangkan barang berharga seperti itu?
***


-KELAS 1A-

“ Seungho..kau dipanggil anak klub basket kelas 2 tuh!” kata Suzy setiba aku di kelas

 

“ Apa Seungho akan masuk klub basket?” Tanya jiyeon
“ Entahlah, tadi aku Cuma dititipi pesan itu” kata suzy
“ Katanya waktu SMP dia ikut klub basket.” Kata Jiyeon
“ jinjja?” tanya Suzy “ tapi kok dia pendek?”
“ Tapi kemarin dia mengatakan hal aneh.” Kata Chang Do ikut menimpali “ Dia bilang ‘memangnya ada tidak klub yang tidak memerlukan bertanding dengan orang lain? ‘Begitu. Ah.. dia kembali kau tanya saja padanya.


“ seungho kau mau masuk klub basket?” Tanya jiyeon penasaran
“ Sedang kupikirkan.” Jawabku sngkat
“ Hal yang kau pikirkan banyak juga ya? Hehe” ejek suzy
“ Jangan mencela orang yang salah meletakkan kata!”
“ Jangan lupa, masuk klub adalah syarat terpenting, klub yang tidak perlu bertanding dengan orang lain, ada kok.” Kata jiyeon “ Memang tidak ada di daftar klub kegiatan sih, tapi ini klub cadangan.”
“ jinjja?”
“ ne, kalau kau tertarik datanglah ke ruang data saat jam istirahat!”
***

-JAM ISTIRAHAT RUANG DATA-

“ T ara… Selamat datang di klub pelatihan” kata jiyeon dan kwangmin bersamaan
“ kenapa seongsaengnim ada disini?” tanyaku heran
“ Soalnya aku penasehat di sini.” Jawabnya santai
“ Klub apa ini tadi?”
“ Klub pe-la-ti-han” jawab Jiyeon
“ sebuah klub yang kegiatannya mengambil bola di klub lain, mencabut rumput, dll.” Terang Kwangmin
“ Sebuah klub yang memberikan sumbangan terbesar bagi lingkungan sekolah.”tambah jiyeon
“ KERJAAN GA PENTING!”
“ Ini juga tugas mulia sebagai pembantu OSIS lo!”
“ tetap saja ga penting”
“ Karena klub ini adalah klub yang menampung secara paksa murid yang berhenti di tengah jalan dalam suatu klub disekolah yang diwajibkan muridnya masuk klub. Dengan kata lain ini adalah KLUB YANG LUAR BIASA .” jelas Kwangmin dengan ekspresi yang..-menjijikkan-
“ Apa nggak ada sebutan yang lain? Aku tidak tertarik!” kataku pergi eninggalkan 2 orang bodoh itu.
***


“ jiyeon sini!” teriak Suzy di ruang ganti putri
“ Maaf aku telat.” Kata Jiyeon ngos2an
“ Hei wajahmu pucat, gwancana?” kata Suzy khawatir.


“ gwanchana, itu karna tadi Kwangmin oppa, maksudq Kwangmin saem memaksaku makan, sekarang aku jadi kekenyangan.”
“ ah..tidak berubah tetap mesra ya?”kata Suzy menggoda
“ Asik ya, jiyeon punya sepupu tampan.” Sahut Naeun
“ Seungho juga, tapi karena dia akrab dengan jiyeon jadi susah meyapanya.” Tambah Lee Ji Eun “ apa kalian pacaran?”
“ Ania! Aku tak mungkin pacaraan dengan Seungho, hanya saja ada alasan yang panjaaang..seperti sungai.”
“ Benar, Jiyeon kan punya orang yang disukai sejak dulu,” Suzy memeluk jiyeon “ Tapi kalian benar2 akrab”
“ Bahkan Suzy juga berfikir begitu..” kata Jiyeon bersungut.
“ Sudahlah kalian cepat ganti bajunya nanti kita terlambat ke lapangan.” Kata naeun mengingatkan.


-RUANG OLAHRAGA-

“ Hari ini olahraganya apa?” Tanyaku
“ Hari ini basket.” Jawab Changdo, “itu keahlianmu kan?”
Aku tak menjawab, bermain basket yang benar saja.
“ Waktu masih SMP kau main basket kan?” Tanya Changdo “ Dengan begini… SIAPA YANG MAU BERTARUH SEUNGHO BISA MENCETAK BERAPA ANGKA?” teriak Changdo.
“ Aku mau!”
“ Aku juga!”
Seketika suasana menjadi ramai. Dasar kelas bodoh, menjadikanku sebagai bahan taruhan. Ah..sudah lah aku pasti bisa!!!”

BUUKKK!!!!



-RUANG KESEHATAN-

“ Wahahaahah, aku jadi ingin lihat bagaimana saat Seungho berdiri kaku dan menangkap bola dengan mukanya.”
“ Hei Kwangmin, kau ini wali kelasnya, tertawamu itu berlebihan.” Bentak Nana saem

 

“ Aku ini juga manusia.” Bantah Kwangmin
“ Sudah cepat kembali ke kelasmu!” bentak Nana
“ Aku sedang tidak ada kelas.”
BRAAKK!! Tiba-tiba pintu terbuka.
“ Nana saem, mana Seungho?” teriak jiyeon
“ Oh tuaN putri, itu.” kata Nana saem sambil menunjukku “ dia gegar otak ringan saja kok.”
Ah ini lagi, dia pasti datang kesini untuk menertawakanku
“ seungho gwanchana?? apa kau mengenaliku?” Tanya jiyeon dengan ekspresi khawatir. Ayolah ini berlebihan.
“ Ne, naneun gwancana.”
“ Syukurlah.” Kata jiyeon lega. “ Seungho, hari ini kau sakit jadi makan malam di rumah kami saja ya!”
“ Hei, apa tak apa2, hari ini hari Rabu, Youngmin libur.” Kata Kwangmin
“ Gak apa2, Youngmin oppa ga akn marah.”
“ tunggu, kalian ini bicara apa sih? Youngmin, siapa dia?”
“ Tenang, kau akan melihat ‘sesuatu yang menarik’” jawab Jiyeon sambil menegrling nakal. “ Kau mau kan?”
Aku mengangguk, aku tak punya pilihan, akibat terkena bola tadi kepalaku masih sakit jadi tidak bisa memasak.
“ aku ada urusan sebentar, nanti aku antar kalian pulang.” Kata Kwangmin sambil menarik Nana saem keluar. “ Ayo Nana!”

“ seungho benar tak apa2?”
“ Ne, aku bisa menyentuh bola, tapi hanya di mulainya pertandingan aku langsung flashback ke masa itu. tiba2 tubuhku tak bisa di gerakkan.”
“ Kenapa tubuhmu tak bisa di gerakkan?” Tanya jiyeon
“ Aku tidak tahu, seperti trauma tapi tidak mengakar.”
“ aneh, padahal kau suka basket kan?”
“ Yang ini dan yang itu masalahnya beda. Hal itu tetaplah kenangan pahit.”
“ Iya sih, tapi bukan berarti tak ada kenangan manisnya kan?” kata Jiyeon, kali ini tersenyum hangat. “ Waktu itu pasti ada. Kalau memikirkan kira2 apa yang terjadi besok kita akan berdebar-debar seperti ingin berhenti dan tidak mau memulainya lagi.iya kan?”
A ku memandang Jiyeon, dia jadi berbeda lagi. Tapi dia benar. Mungkin alasan kenapa dia tidak menyerah pasti mungkin ada hal yang membahagiakan sebelumnya.

***



Ting tong…
“ Jiyeonnie.. Apa maksudmu dengan ‘sesuatu yang menarik’?”tanyaku saat berada di depan apartmennya.
“ Aku punya rahasia sebenarnya.. Kwangmin oppa bukanlah sepupuku. Tapi kakak kandungku.”

CLAK (pintu di buka)
“ Selamat datang”
aku terperanjat melihat sosok yang membukakan pintu. Wajahnya mirip sekali dengan Kwangmin saem. Apakah mereka..
KEMBAR??

                                                                                                                              TBC